API Wilayah 19 NTT Periode 2026–2030 Resmi Dikukuhkan, Dorong Pelayanan Pastoral yang Holistik9/7/2026 KUPANG, NTT — Pengurus Wilayah 19 Asosiasi Pastoral Indonesia (API) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masa pelayanan 2026–2030 resmi dilantik dan dikukuhkan dalam ibadah Minggu di Jemaat Tiberias Tuak Daun Merah (TDM), Minggu (6/9/2026). Pelantikan dan pengukuhan pengurus baru tersebut dilakukan oleh salah satu Ketua Pengurus Pusat API, Pdt. Dina Dethan-Penpada, M.Th., yang hadir mewakili Pengurus Pusat API. Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Dina menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Wilayah 19 API NTT yang baru dilantik. Ia berharap kehadiran API di NTT dapat terus memberikan inspirasi sekaligus berkontribusi nyata bagi pengembangan pelayanan pastoral di tengah kehidupan gereja dan masyarakat. Ibadah pengukuhan dipimpin oleh Pdt. Dr. Mesak A.P. Dethan, M.A. Dalam khotbahnya yang berlandaskan Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku,” Dethan menekankan pentingnya Firman Tuhan sebagai pedoman dalam menjalankan pelayanan. Menurutnya, Firman Tuhan berfungsi seperti pelita yang menerangi langkah manusia. Pelita tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus, tetapi menerangi langkah yang ada di depan. “Pelita tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus. Ia menerangi langkah yang ada di depan kita,” ungkapnya. Karena itu, Dethan mengingatkan para pengurus API agar dalam menjalankan tugas dan mengambil setiap keputusan tidak semata-mata mempertimbangkan kepentingan organisasi, tetapi menjadikan kehendak Tuhan sebagai dasar utama. “Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang paling menguntungkan organisasi?’ tetapi bertanyalah, ‘Apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan?’” tegasnya. API: Api yang Menyala dari Dalam Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Pengurus Wilayah 19 API NTT periode 2026–2030, Pdt. Yulian Widodo, M.Th., mengajak seluruh anggota dan pengurus untuk memahami kembali hakikat kehadiran API di tengah gereja dan masyarakat. Dengan gaya yang reflektif, Yulian mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut terhadap nama “API”. “Jangan sampai orang takut menjadi anggota API karena nanti bisa terbakar,” ujarnya, disambut suasana hangat peserta. Ia menjelaskan bahwa API merupakan singkatan dari Asosiasi Pastoral Indonesia. Menurutnya, API memang tidak dimaksudkan untuk “membakar dari luar”, tetapi semangat API justru harus menyala dari dalam hati orang-orang yang menjawab panggilan Allah untuk melayani manusia secara holistik. “API yang ada akan menyala di dalam hati orang-orang yang mau menjawab panggilan Allah untuk melayani manusia secara holistik, baik secara rohani, mental, maupun sosial,” jelasnya. Ia menambahkan, sesuai namanya, API merupakan wadah bagi orang-orang yang memberikan diri dalam pelayanan pastoral di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat Indonesia. Karena itu, API hadir dengan tiga tujuan utama, yakni mengembangkan ilmu dan profesi pastoral sebagai pemenuhan panggilan Allah, meningkatkan kualitas pelayanan pastoral di berbagai bidang, serta mewujudkan kesejahteraan manusia di tengah keutuhan ciptaan Allah. Terhubung dalam Pelayanan Nasional dan Kolaborasi Dalam sambutannya, Yulian juga mengungkapkan bahwa meskipun eksistensi API NTT belum sepenuhnya dirasakan secara luas, organisasi tersebut tetap terhubung dengan berbagai kegiatan pastoral di tingkat nasional. Salah satunya adalah keterlibatan API NTT dalam Konvensi Pastoral Nasional (KONPASNAS) API tahun 2025 di Bali. Menurut Yulian, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa eksistensi API NTT, baik di tingkat wilayah maupun nasional, tetap terjaga. Selain itu, pada 2024 dan 2025 API NTT juga telah melaksanakan sejumlah kegiatan kolaboratif bersama berbagai lembaga mitra. Kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kupang, Sinode GMIT, dan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, antara lain diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Kegiatan tersebut, menurut Yulian, menjadi bukti bahwa API NTT berupaya hadir dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk melalui sejumlah kegiatan di jemaat-jemaat GMIT yang berada di wilayah K3T. Pengurus Baru Ajak Semua Elemen Bersinergi Memasuki periode pelayanan 2026–2030, Yulian menegaskan bahwa pengurus baru menyadari sepenuhnya bahwa amanat pelayanan tidak mungkin dijalankan tanpa dukungan doa, partisipasi, dan kerja sama seluruh anggota API di NTT. Ia mengajak seluruh anggota untuk membangun kerja bersama dengan para pelayan dan pegiat pastoral dari berbagai latar belakang, termasuk pendeta, guru agama, penatua, diaken, pelayan sosial, dan berbagai unsur masyarakat lainnya. “Kita saling mendukung dalam kerja-kerja bersama dan sama-sama bekerja dengan pelayan atau pegiat pastoral dari berbagai latar belakang,” katanya. Yulian juga mengajak seluruh anggota API untuk terus mendoakan Pdt. Emrt. Dina Takalapeta-Meller, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua API periode 2021–2025. Apresiasi kepada Mitra dan Tuan Rumah Dalam kesempatan tersebut, Pengurus Wilayah 19 API NTT juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan pengukuhan. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pengurus Pusat API yang diwakili Pdt. Dina Dethan-Penpada, M.Th.; pimpinan Sinode GMIT dan Sinode GKS sebagai mitra strategis API dan Dewan Kehormatan API; serta Majelis Jemaat dan seluruh jemaat Tiberias TDM yang telah menjadi tuan rumah kegiatan. Apresiasi juga disampaikan kepada Pdt. Dr. Mesak Dethan, M.A. atas khotbah yang disampaikan, Bapak Ayub Mooy dan keluarga besar Hotel Pelangi yang mendukung pelaksanaan pelatihan secara onsite, keluarga Radji dan keluarga Parera Banunu, serta seluruh pengurus dan anggota API yang selama ini telah berkontribusi dalam berbagai dinamika organisasi. “Bekerjalah dengan Segenap Hati” Menutup sambutannya, Yulian menegaskan bahwa menjadi anggota dan pengurus API bukanlah tugas yang mudah. Menurutnya, organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cakap dan pintar, tetapi terutama mereka yang bersedia memberikan diri untuk bekerja dan melayani bersama. “Menjadi anggota API itu tidak mudah. Yang kita butuhkan pertama-tama bukanlah orang yang cakap atau pintar semata, tetapi yang mau memberi diri dalam pelayanan bersama sehingga kita kompak dan solid dalam melangkah bersama,” tegasnya. Ia kemudian menghubungkan pesan khotbah Pdt. Dr. Mesak Dethan dengan panggilan pelayanan API pada periode yang baru. Firman Tuhan, katanya, harus menjadi terang yang menuntun setiap langkah pengurus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pelayanan. Sebagai landasan pelayanan API Wilayah 19 NTT periode 2026–2030, Yulian mengutip Kolose 3:23: “Buat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.” Ayat tersebut diharapkan menjadi semangat sekaligus dasar bagi seluruh pengurus dalam menjalankan panggilan pelayanan selama periode kepengurusan yang baru. “Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Shalom, salam pastoral,” pungkas Yulian.
0 Comments
Leave a Reply. |
Almi D.HarmonyKontributor Penerbit Alrelancegis Archivess
September 2026
Categories |




RSS Feed