PENERBIT ALRELANCEGIS
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
BERITA & OPINI

Inspirasi untuk Mengajar dan Mengajar untuk Menginspirasi: Refleksi kegiatan Rote Mengajar dari perspekstif Paulo Freire, Paul Tillich, dan Max Rafferty

8/26/2026

0 Comments

 
Oleh. Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th (Dosen Pascasarjana IAKN Kupang, putra asal Pulau Ndao)
Picture

Tim Relawan Mengajar SDI Nggaelai (Daud Saleh Luji, Andri Giwangkara, Elvis Elimanafe, Adel Talan, Fitrida Bullu, Desnatalya Saek dan Anggi) bersama Kepsek  Ketua Komite dan Nakes Desa Nggaelai
Pada tanggal 24 Agustus 2026, sebuah gerakan besar lahir di Kabupaten Rote Ndao. Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, bersama Komunitas Kaum Muda Rote Ndao menggagas program bertajuk "Rote Mengajar", sebuah inisiatif sosial-pedagogis yang menghadirkan pembelajaran inspiratif bagi anak-anak dan kaum muda di Bumi Rote Ndao. Program yang mengusung tagline "Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi" ini berhasil mendatangkan 206 relawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, untuk berbagi pengalaman, motivasi, dan pengembangan karakter bagi siswa SD, SMP, dan SMA di 34 sekolah yang tersebar di 10 kecamatan

Bagi saya, para pencetus gagasan ini adalah sosok luar biasa. Mereka memiliki inspirasi yang mumpuni untuk melakukan kegiatan mengajar. Karena mereka tahu bahwa untuk menginspirasi generasi muda menjadi manusia unggul harus melibatkan banyak orang (relawan) untuk mengajar dan berbagi pengalaman. Kehadiran para relawan dari berbagai profesi - mulai dari perbankan, kepolisian, pilot, dosen, politisi, hingga pengusaha - membuka wawasan siswa bahwa masa depan tidak terbatas pada apa yang mereka lihat sehari-hari. Program ini tidak hanya menyelenggarakan Kelas Inspirasi, tetapi juga sesi parenting yang memberi penguatan kepada orang tua tentang peran mereka dalam mendidik dan mendukung anak-anak mengejar masa depan yang lebih baik, membebaskan mereka dari belenggu kebodohan. [1] Rote Mengajar 2026 Bangun Mimpi Generasi Muda Rote Ndao. https://rri.co.id/kupang/regional/2673627/rote-mengajar-2026-bangun-mimpi-generasi-muda-rote-ndao

Namun, apa makna filosofis dari gerakan ini jika dikaji dari perspektif para pemikir pendidikan? Mari kita telaah melalui kacamata Paulo Freire, Paul Tillich, dan Max Rafferty

Paulo Freire: Membebaskan dari "Pendidikan Gaya Bank" dan Menumbuhkan Kesadaran Kritis

Paulo Freire, pendidik asal Brasil dan bapak pedagogi kritis, menawarkan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai "model perbankan" (banking model) dalam pendidikan. Model ini memandang siswa sebagai wadah kosong yang pasif yang harus "diisi" dengan pengetahuan oleh guru. Freire menegaskan bahwa pendidikan model ini menghentikan pertumbuhan intelektual siswa, menjadikan mereka sekadar "penerima" atau "kolektor" informasi tanpa koneksi dengan aplikasi dunia nyata, yang pada akhirnya membuka jalan bagi penindasan, kontrol, dan dominasi. (Freire, P. (1970/2000). Pedagogy of the Oppressed. Continuum). Dikutip dalam berbagai analisis tentang model perbankan dan kesadaran kritis) 

Sebaliknya, Freire mengusulkan pendidikan sebagai "praktik kebebasan" (practice of freedom) melalui dialog setara antara pendidik dan peserta didik. Tujuan utamanya adalah membangkitkan kesadaran kritis yaitu  kemampuan untuk "membaca dunia", memahami posisi diri dalam realitas sosial, dan menyadari potensi untuk mengubah realitas tersebut.[1] Bagi Freire, mengajar adalah tindakan politik yang mana, pendidik membentuk cara berpikir siswa melalui pilihan pedagogis yang dibuatnya.

Program Rote Mengajar merefleksikan semangat Freirean ini dengan kuat. Para relawan tidak datang untuk "mengisi" kepala siswa dengan dogma. Mereka hadir untuk berbagi cerita hidup nyata, memperkenalkan berbagai dunia profesi, dan menumbuhkan motivasi belajar serta wawasan tentang peluang masa depan. Seperti yang diungkapkan Bupati Paulus Henuk, "Pendidikan anak-anak itu tidak hanya dibangun dengan pendidikan yang sifatnya pedagogis. Ada karakter, ada rasa tanggung jawab, rasa ingin mengabdi dan rasa ingin berempati. Saya ingin membangun generasi Rote ke depan, generasi yang memahami bahwa pendidikan tidak hanya ada di ruang-ruang kelas, tetapi juga datang dari cerita-cerita sukses".[1] Pendekatan ini menggeser peran guru/relawan dari "sumber tunggal pengetahuan" menjadi "fasilitator inspirasi," sejalan dengan gagasan Freire tentang pendidikan dialogis yang membebaskan. 

Paul Tillich: "Keberanian untuk Menjadi" dan Pedagogi Harapan Radikal
 
Paul Tillich, teolog dan filsuf eksistensialis Protestan, memperkenalkan konsep "keberanian untuk menjadi" (courage to be) sebagai fondasi eksistensi autentik di tengah kecemasan dan ketidakpastian. Dalam konteks pendidikan, para filsuf pendidikan kontemporer membaca Tillich sebagai alat kritis untuk memahami isu-isu pendidikan masa kini, melampaui pendekatan keagamaan atau didaktik semata.[1] Tillich memperkenalkan gagasan "kairos"—momen kritis dalam sejarah di mana peluang transformasi muncul. Dari analisis atas tiga kairos besar di abad ke-20 dan ke-21, para pemikir pendidikan menyimpulkan perlunya "pedagogi harapan radikal" (pedagogy of radical hope) yang membentuk keberanian untuk bertindak kolektif di tingkat akar rumput, sebagai respons terhadap krisis eksistensial seperti perubahan iklim dan ketidakadilan sosial. (Tillich, P. Konsep "keberanian untuk menjadi" dan "kairos" sebagaimana dianalisis dalam: (2022). Three Kairoi -- Three Aions. Paul Tillich, Ultimate Concern and Pedagogy of Radical Hope. Studies in Philosophy and Education, 41(4), 389-404

Rote Ndao Mengajar 2026, yang melibatkan 206 relawan dari berbagai daerah—termasuk mereka yang "menyeberangi pulau, bahkan melintasi batas negara" —adalah manifestasi nyata dari "kolektif akar rumput" yang digambarkan Tillich. Kehadiran mereka adalah tindakan keberanian dan harapan: harapan bahwa meskipun hanya satu hari mengajar, dampak inspirasi dapat berlangsung seumur hidup. Ini adalah respons atas "kairos" dalam sejarah Rote Ndao, sebuah momen di mana anak-anak muda perlu dibantu menemukan keberanian untuk bermimpi dan mempersiapkan masa depan di tengah keterbatasan geografis dan ekonomi. 

Penulis mendapat bagian untuk sesi parenting di SD Inpres Nggaelai Kecamatan Rote Barat Daya. Sesi ini melibatkan orang tua dan pihak sekolah untuk memperkuat ekosistem pendidikan, dan memastikan bahwa harapan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga ditumbuhkan dari dalam keluarga. Sebagai orang tua yang membesarkan enam orang anak dimana, beberapa diantaranya menempuh pendidikan magister,  saya memberikan motifasi dan harapan bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang terindah bagi kita. Anak tidak pernah memilih untuk lahir dari rahim kita, karena itu mereka harus dipelihara dibesarkan secara bertanggung jawab, sampai mereka menjadi generasi yang unggul dan membanggakan nusa bangsa dan terlebih Tuhan yang empunya anak-anak tersebut.

Max Rafferty: Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Fondasi Klasik

Max Rafferty, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan California pada tahun 1960-an, dikenal sebagai sosok konservatif dalam pendidikan. Ia secara vokal mengkritik "pendidikan progresif" yang dianggapnya terlalu permisif dan pragmatis, serta mengampanyekan kembali ke fondasi klasik yaitu disiplin, rasa hormat, patriotisme, penguasaan tabel perkalian, dan pembacaan karya-karya agung (klasik). Bagi Rafferty, pendidikan harus menekankan pembentukan karakter dan ketertiban sebelum pembelajaran dapat terjadi. Meskipun pandangannya sering dianggap nostalgis dan kontroversial pada zamannya, esensi pemikirannya tentang pentingnya disiplin dan nilai-nilai dasar tetap relevan. [ Rafferty, M. (1964). What They Are Doing to Your Children. New American Library. (Dikutip dalam berbagai resensi buku terkait pendidikan karakter dan disiplin) ., [2] Max Rafferty, “Pendidikan Yang Mendalam,” in Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, KOnservatif, Liberalis, Anarkis, ed. Omi Intan Naomi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015).

Rote Mengajar, meskipun tidak secara eksplisit mengadopsi retorika konservatif Rafferty, mengintegrasikan nilai-nilai ini secara substantif. Program ini secara eksplisit menekankan pengembangan karakter, tanggung jawab, dan rasa ingin mengabdi—sebagaimana ditegaskan Bupati Paulus Henuk. Kelas Inspirasi, Parenting Session, dan Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan adalah wahana untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Dengan mendatangkan para profesional dan tokoh masyarakat, program ini menunjukkan kepada siswa bahwa kesuksesan (seperti yang diajarkan Rafferty melalui penekanan pada "pahlawan Amerika") dibangun di atas kerja keras, disiplin, dan integritas yakni nilai-nilai yang tidak lekang oleh zaman.
​
Relevansi Bagi Rote Ndao: Transformasi Generasi Unggul

Rote Mengajar adalah perpaduan ideal dari tiga arus pemikiran: pembebasan kritis ala Freire, harapan eksistensial ala Tillich, dan penanaman karakter ala Rafferty. Program ini mengakui bahwa pendidikan di Rote Ndao tidak bisa hanya berfokus pada nilai akademis. Seperti yang dikatakan panitia, harapannya adalah "walaupun hanya 1 hari tetapi... anak-anak bisa terinspirasi untuk mulai mempersiapkan cita-cita dan rencana masa depan yang lebih baik sehingga ada transformasi sumber daya manusia di Kabupaten Rote Ndao."

Dari Freire, Rote Mengajar belajar bahwa pendidikan adalah alat pembebasan—membebaskan anak-anak dari "belenggu kebodohan" dan memberikan mereka agensi untuk menulis masa depan mereka sendiri. Dari Tillich, gerakan ini belajar bahwa di tengah segala ketidakpastian, keberanian untuk hadir dan berbagi adalah bentuk harapan radikal. Dan dari Rafferty, program ini belajar bahwa inspirasi tanpa karakter tidak akan berbuah generasi yang unggul dan berdaya saing. Maka, Rote Ndao Mengajar adalah jembatan: menghubungkan mimpi anak-anak Rote Ndao dengan realitas dunia luar, namun tetap menanamkan akar yang kuat pada nilai-nilai luhur.

Picture

​Sebagai seorang putra daerah dari Pulau Ndao, saya merasa bangga dan terharu. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah pernyataan bahwa anak-anak Rote Ndao layak mendapat masa depan yang lebih cerah. Mereka layak bertemu dengan para inspirator, layak untuk bermimpi, dan layak untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan.
 
Semangat "Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi" bukan sekadar tagline. Itu adalah janji, sebuah komitmen untuk terus menyalakan api harapan di bumi Rote Ndao, agar generasi mendatang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan berani dalam bertindak. Inilah transformasi yang kita nantikan. Selamat menabur untuk menuai di masa yang akan datang.

​Proviciat untuk Bapak Paulus Henukh, SH. (Bupati Rote Ndao), Ketua Panitia Kakanda Dani Nalle (Plt Skda Rote Ndao, teman masa kecil di Pulau Ndao), dan Kaum muda cerdas yang bekerja luar biasa khususnya Adik Max Fioh (Anak saksi) dan kawan kawan kaum muda yang hebat. Sampai jumpa di Rote Ndao mengajar tahun 2027. Tuhan memberkati kerja keras kalian. Sukses selalu
0 Comments

    Almi D.Harmony

    Kontributor Penerbit Alrelancegis

    Archivess

    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026

    Categories

    All
    Akademis
    Usaha

    RSS Feed