PENERBIT ALRELANCEGIS
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
BERITA & OPINI

Dr. Daud Saleh Luji Paparkan Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif dalam Seminar Nasional Pascasarjana IAKN Kupang

7/23/2026

0 Comments

 
Picture
​Kupang, 23 Juli 2026 – Isu krisis lingkungan, khususnya ancaman terhadap ketersediaan air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian utama dalam Seminar Nasional Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026, bertempat di Hotel Sasando Internasional, Kupang.

Dalam seminar tersebut, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th. tampil sebagai narasumber ke empat dengan membawakan materi berjudul “Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif: Membangun Kesadaran Pelestarian Air di Nusa Tenggara Timur dengan Model PAK Berbasis Ekoteologi Kontekstual.”

Dalam paparannya, Dr. Daud Saleh Luji menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai isu ekologis, tetapi telah menjadi persoalan moral, spiritual, dan pendidikan yang memerlukan respons bersama. Menurutnya, Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab iman kepada Allah Sang Pencipta.

Ia menjelaskan bahwa paradigma PAK berbasis Ekoteologi Kontekstual menempatkan pendidikan agama sebagai sarana transformasi sosial yang menghubungkan nilai-nilai iman dengan realitas ekologis yang dihadapi masyarakat. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami ajaran Alkitab tentang mandat manusia sebagai penatalayan ciptaan, tetapi juga didorong untuk mewujudkannya melalui tindakan nyata dalam menjaga dan melestarikan sumber daya air.

"Pelestarian air bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau pemerhati lingkungan, tetapi merupakan panggilan iman bagi setiap orang percaya. Pendidikan Agama Kristen harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kesadaran ekologis, spiritualitas lingkungan, serta komitmen untuk merawat ciptaan Tuhan," ungkap Dr. Daud Saleh Luji di hadapan para peserta seminar.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menghadapi tantangan serius terkait keterbatasan sumber air bersih, perubahan iklim, degradasi daerah resapan, dan kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut lahirnya model pendidikan yang relevan dengan konteks lokal sehingga mampu membangun budaya pelestarian lingkungan sejak usia dini.

Model PAK berbasis Ekoteologi Kontekstual yang dipaparkan mengintegrasikan pembelajaran teologis dengan aksi nyata, seperti konservasi mata air, penghijauan kawasan resapan, pemanfaatan air hujan, gerakan hemat air, serta penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Model ini mengintegrasikan tiga dimensi pendidikan--episteme (pengetahuan), ethos (sikap), dan praxis (tindakan)—dengan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis studi kasus lokal, refleksi biblika kontekstual, pembelajaran berbasis pengalaman dan aksi, serta integrasi kearifan lokal.

Model ini menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen tidak hanya menjadi sarana pembentukan iman, tetapi juga transformasi praksis terhadap realitas lingkungan lokal. Melalui model ini, peserta didik dan komunitas gereja diajak menyadari bahwa pelestarian air adalah bagian integral dari iman Kristen dan panggilan untuk menjadi penatalayan ciptaan Allah yang setia.
Pendekatan ini juga mendorong kolaborasi antara sekolah, gereja, keluarga, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun gerakan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

​Menurut Dr. Daud Saleh Luji, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Oleh karena itu, integrasi ekoteologi dalam Pendidikan Agama Kristen menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki kecerdasan spiritual sekaligus kecerdasan ekologis.
Seminar Nasional Pascasarjana IAKN Kupang yang menghadirkan 4 nara sumber yaitu Dr. Ebenhaezer Nuban Timo, MA  dari UKAW Kupang, Dr. Talita Tlonaen,S.Ag,M.Pd dari STAKRI Kupang. Isidorus Lilijawa,S.Fil,M.Pd sebagai Direktur PERUMDA Air Minum Kota Kupang, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th dari Pascasarjana IAKN Kupang. Untuk berjalannya seminar tersebut  maka Maya Djawa, Ph.D dan Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K ditunjuk sebagai moderator.

Katua Panitia seminar Dr. Simon Kasse,M.Pd.K menegaskan bahwa Seminar ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan para dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana, praktisi pendidikan, serta pemerhati lingkungan untuk mendiskusikan berbagai gagasan inovatif dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

​Melalui forum ilmiah tersebut, diharapkan lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat sinergi antara pendidikan, gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun budaya pelestarian lingkungan demikian kata Direktur Pascasarjana IAKN Kupang Dr, Ezra Tari,M.Th  dalam sambutan penutupan kegiatan seminra tersebut.

​Paradigma Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif diharapkan menjadi salah satu kontribusi akademik yang mampu menginspirasi pengembangan kurikulum, penelitian, maupun praktik pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan ciptaan dan kesejahteraan masyarakat.
0 Comments

Mahasiswa IAKN Kupang Gelar UAS Berbasis Implementasi Teologi di GPDI Rajawali Naimata

7/2/2026

7 Comments

 
Picture
Kupang – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) dengan menggelar ujian berbasis implementasi teologi di Gedung Gereja GPDI Rajawali Naimata, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mata kuliah Teologi Perjanjian Baru dan Pengantar Teologi Sistematika yang diampu oleh Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K.
Berbeda dengan ujian tertulis pada umumnya, mahasiswa semester IV dari Kelas A, B, C, dan H serta mahasiswa semester II Kelas D diuji melalui presentasi, drama, refleksi, dan diskusi teologis yang menghubungkan pemahaman akademik dengan praktik kehidupan nyata.
Mengusung tema "Menghidupi Teologi Perjanjian Baru: Menjadi Pribadi, Anggota Keluarga, Pelayan Gereja, dan Calon Guru Kristen yang Transformatif," kegiatan ini bertujuan membentuk mahasiswa agar mampu menginternalisasi nilai-nilai teologi dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja, dan profesi sebagai calon guru Pendidikan Agama Kristen.
Dalam sambutannya, Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K menegaskan bahwa model UAS berbasis implementasi merupakan terobosan pembelajaran yang mampu mengukur pemahaman mahasiswa secara lebih utuh.
"Mahasiswa tidak hanya dinilai dari penguasaan materi teologi secara akademik, tetapi juga dari kemampuan menghidupinya dalam kehidupan bergereja, keluarga, dan masyarakat," ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan, dilanjutkan pengarahan mengenai tema, tujuan, dan kriteria penilaian sebelum mahasiswa menampilkan berbagai karya kreatif sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.
Drama dan Seni Jadi Media Menghidupi TeologiKelas A membuka presentasi melalui drama "Redemptive Love: Kasih yang Memulihkan, Bukan Menghakimi" yang mengangkat materi Injil Sinoptik. Kisah tersebut menggambarkan pergumulan seorang pemuda bernama Aby yang mengalami tekanan hidup namun dipulihkan melalui kasih Tuhan dan kepedulian sesama. Drama ini menekankan pentingnya kasih tanpa syarat, pengampunan, dan sikap tidak menghakimi.
Sementara itu, Kelas B mengangkat kisah Maria berdasarkan Injil Yohanes. Drama tersebut merefleksikan kehidupan mahasiswa dan pemuda masa kini yang aktif dalam pelayanan namun perlahan kehilangan kedekatan dengan Tuhan akibat kesibukan. Pesan yang disampaikan mengajak setiap orang menjaga relasi pribadi dengan Kristus serta menyadari bahwa Tuhan selalu membuka kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat.
Kelas C menghadirkan dua karya sekaligus, yakni drama "Berharga di Mata Tuhan" yang diangkat dari Kitab Kisah Para Rasul serta visualisasi puisi "Kami Kristen." Kedua karya tersebut mengajak peserta merenungkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kasih Allah, sekaligus menegaskan bahwa teologi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Kelas H yang membahas Surat-surat Paulus menampilkan drama yang mengangkat nilai kasih, kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui kisah konflik dan pertobatan para tokohnya, mahasiswa mengajak peserta menjadi pelaku firman dan menghadirkan kesaksian hidup yang memuliakan Tuhan.
Kolaborasi dengan Refleksi Teologi SistematikaKegiatan ini juga melibatkan mahasiswa semester II Kelas D melalui refleksi mata kuliah Pengantar Teologi Sistematika. Mereka tidak hanya mengikuti jalannya presentasi, tetapi juga memberikan tanggapan dan refleksi mengenai implementasi berbagai doktrin dasar iman Kristen, seperti doktrin tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, gereja, dan keselamatan dalam kehidupan pelayanan, keluarga, dan dunia pendidikan.
Kolaborasi lintas semester tersebut memperkaya proses pembelajaran sekaligus memperlihatkan bahwa teologi tidak berhenti sebagai konsep akademik, melainkan menjadi pedoman hidup yang relevan.
Dalam setiap presentasi, mahasiswa diminta merefleksikan empat aspek utama, yaitu pembentukan karakter pribadi sebagai murid Kristus, relasi yang sehat dalam keluarga, kontribusi nyata bagi gereja, serta kesiapan menjadi guru Pendidikan Agama Kristen yang transformatif dan berkarakter Kristus.
​Gereja Apresiasi Model PembelajaranPuncak kegiatan ditandai dengan ibadah penutupan dan pengutusan yang dipimpin Gembala Jemaat GPDI Rajawali Naimata, Pdt. Dr. Robi Kause, M.Th. Dalam khotbah yang diambil dari Kolose 1:15–20, ia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penyataan sempurna Allah, Pencipta yang berotoritas atas segala sesuatu, sekaligus Kepala Gereja yang mendamaikan umat-Nya.
Pdt. Robi Kause memberikan apresiasi tinggi terhadap model UAS yang dilaksanakan di lingkungan gereja.
"Saya sangat terkesan karena Ujian Akhir Semester ini membawa pesan-pesan Teologi Perjanjian Baru keluar dari ruang kelas sehingga menjadi hidup dan relevan dengan pelayanan nyata di tengah jemaat. Model seperti ini patut dipertahankan dan terus dikembangkan," ungkapnya.
Pada akhir kegiatan, seluruh mahasiswa mengikrarkan komitmen untuk menghidupi nilai-nilai Teologi Perjanjian Baru dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja, serta pelayanan pendidikan yang akan mereka jalani sebagai calon guru Agama Kristen.
Dr. Fenetson Pairikas menambahkan bahwa pelaksanaan UAS berbasis implementasi merupakan bagian dari komitmen Program Studi PAK IAKN Kupang dalam mencetak pendidik Kristen yang unggul secara akademik, matang secara spiritual, serta mampu menghadirkan transformasi di tengah masyarakat.
Ia juga mengapresiasi kreativitas dan kerja keras seluruh mahasiswa, termasuk kolaborasi mahasiswa semester II dalam refleksi Teologi Sistematika. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan gereja menjadi bukti nyata bahwa pendidikan teologi yang berkualitas harus menghasilkan lulusan yang berintegritas, profesional, dan mampu menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam setiap aspek kehidupan.
 
7 Comments

    Almi D.Harmony

    Kontributor Penerbit Alrelancegis

    Archivess

    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026

    Categories

    All
    Akademis
    Usaha

    RSS Feed