<![CDATA[PENERBIT ALRELANCEGIS - BERITA]]>Thu, 27 Aug 2026 13:16:06 -0700Weebly<![CDATA[Inspirasi untuk Mengajar dan Mengajar untuk Menginspirasi: Refleksi kegiatan Rote Mengajar dari perspekstif Paulo Freire, Paul Tillich, dan Max Rafferty]]>Wed, 26 Aug 2026 07:00:00 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/inspirasi-untuk-mengajar-dan-mengajar-untuk-menginspirasi-refleksi-kegiatan-rote-mengajar-dari-perspekstif-paulo-freire-paul-tillich-dan-max-raffertyOleh. Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th (Dosen Pascasarjana IAKN Kupang, putra asal Pulau Ndao) Picture

Tim Relawan Mengajar SDI Nggaelai (Daud Saleh Luji, Andri Giwangkara, Elvis Elimanafe, Adel Talan, Fitrida Bullu, Desnatalya Saek dan Anggi) bersama Kepsek  Ketua Komite dan Nakes Desa Nggaelai
Pada tanggal 24 Agustus 2026, sebuah gerakan besar lahir di Kabupaten Rote Ndao. Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, bersama Komunitas Kaum Muda Rote Ndao menggagas program bertajuk "Rote Mengajar", sebuah inisiatif sosial-pedagogis yang menghadirkan pembelajaran inspiratif bagi anak-anak dan kaum muda di Bumi Rote Ndao. Program yang mengusung tagline "Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi" ini berhasil mendatangkan 206 relawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, untuk berbagi pengalaman, motivasi, dan pengembangan karakter bagi siswa SD, SMP, dan SMA di 34 sekolah yang tersebar di 10 kecamatan

Bagi saya, para pencetus gagasan ini adalah sosok luar biasa. Mereka memiliki inspirasi yang mumpuni untuk melakukan kegiatan mengajar. Karena mereka tahu bahwa untuk menginspirasi generasi muda menjadi manusia unggul harus melibatkan banyak orang (relawan) untuk mengajar dan berbagi pengalaman. Kehadiran para relawan dari berbagai profesi - mulai dari perbankan, kepolisian, pilot, dosen, politisi, hingga pengusaha - membuka wawasan siswa bahwa masa depan tidak terbatas pada apa yang mereka lihat sehari-hari. Program ini tidak hanya menyelenggarakan Kelas Inspirasi, tetapi juga sesi parenting yang memberi penguatan kepada orang tua tentang peran mereka dalam mendidik dan mendukung anak-anak mengejar masa depan yang lebih baik, membebaskan mereka dari belenggu kebodohan. [1] Rote Mengajar 2026 Bangun Mimpi Generasi Muda Rote Ndao. https://rri.co.id/kupang/regional/2673627/rote-mengajar-2026-bangun-mimpi-generasi-muda-rote-ndao

Namun, apa makna filosofis dari gerakan ini jika dikaji dari perspektif para pemikir pendidikan? Mari kita telaah melalui kacamata Paulo Freire, Paul Tillich, dan Max Rafferty

Paulo Freire: Membebaskan dari "Pendidikan Gaya Bank" dan Menumbuhkan Kesadaran Kritis

Paulo Freire, pendidik asal Brasil dan bapak pedagogi kritis, menawarkan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai "model perbankan" (banking model) dalam pendidikan. Model ini memandang siswa sebagai wadah kosong yang pasif yang harus "diisi" dengan pengetahuan oleh guru. Freire menegaskan bahwa pendidikan model ini menghentikan pertumbuhan intelektual siswa, menjadikan mereka sekadar "penerima" atau "kolektor" informasi tanpa koneksi dengan aplikasi dunia nyata, yang pada akhirnya membuka jalan bagi penindasan, kontrol, dan dominasi. (Freire, P. (1970/2000). Pedagogy of the Oppressed. Continuum). Dikutip dalam berbagai analisis tentang model perbankan dan kesadaran kritis) 

Sebaliknya, Freire mengusulkan pendidikan sebagai "praktik kebebasan" (practice of freedom) melalui dialog setara antara pendidik dan peserta didik. Tujuan utamanya adalah membangkitkan kesadaran kritis yaitu  kemampuan untuk "membaca dunia", memahami posisi diri dalam realitas sosial, dan menyadari potensi untuk mengubah realitas tersebut.[1] Bagi Freire, mengajar adalah tindakan politik yang mana, pendidik membentuk cara berpikir siswa melalui pilihan pedagogis yang dibuatnya.

Program Rote Mengajar merefleksikan semangat Freirean ini dengan kuat. Para relawan tidak datang untuk "mengisi" kepala siswa dengan dogma. Mereka hadir untuk berbagi cerita hidup nyata, memperkenalkan berbagai dunia profesi, dan menumbuhkan motivasi belajar serta wawasan tentang peluang masa depan. Seperti yang diungkapkan Bupati Paulus Henuk, "Pendidikan anak-anak itu tidak hanya dibangun dengan pendidikan yang sifatnya pedagogis. Ada karakter, ada rasa tanggung jawab, rasa ingin mengabdi dan rasa ingin berempati. Saya ingin membangun generasi Rote ke depan, generasi yang memahami bahwa pendidikan tidak hanya ada di ruang-ruang kelas, tetapi juga datang dari cerita-cerita sukses".[1] Pendekatan ini menggeser peran guru/relawan dari "sumber tunggal pengetahuan" menjadi "fasilitator inspirasi," sejalan dengan gagasan Freire tentang pendidikan dialogis yang membebaskan. 

Paul Tillich: "Keberanian untuk Menjadi" dan Pedagogi Harapan Radikal
 
Paul Tillich, teolog dan filsuf eksistensialis Protestan, memperkenalkan konsep "keberanian untuk menjadi" (courage to be) sebagai fondasi eksistensi autentik di tengah kecemasan dan ketidakpastian. Dalam konteks pendidikan, para filsuf pendidikan kontemporer membaca Tillich sebagai alat kritis untuk memahami isu-isu pendidikan masa kini, melampaui pendekatan keagamaan atau didaktik semata.[1] Tillich memperkenalkan gagasan "kairos"—momen kritis dalam sejarah di mana peluang transformasi muncul. Dari analisis atas tiga kairos besar di abad ke-20 dan ke-21, para pemikir pendidikan menyimpulkan perlunya "pedagogi harapan radikal" (pedagogy of radical hope) yang membentuk keberanian untuk bertindak kolektif di tingkat akar rumput, sebagai respons terhadap krisis eksistensial seperti perubahan iklim dan ketidakadilan sosial. (Tillich, P. Konsep "keberanian untuk menjadi" dan "kairos" sebagaimana dianalisis dalam: (2022). Three Kairoi -- Three Aions. Paul Tillich, Ultimate Concern and Pedagogy of Radical Hope. Studies in Philosophy and Education, 41(4), 389-404

Rote Ndao Mengajar 2026, yang melibatkan 206 relawan dari berbagai daerah—termasuk mereka yang "menyeberangi pulau, bahkan melintasi batas negara" —adalah manifestasi nyata dari "kolektif akar rumput" yang digambarkan Tillich. Kehadiran mereka adalah tindakan keberanian dan harapan: harapan bahwa meskipun hanya satu hari mengajar, dampak inspirasi dapat berlangsung seumur hidup. Ini adalah respons atas "kairos" dalam sejarah Rote Ndao, sebuah momen di mana anak-anak muda perlu dibantu menemukan keberanian untuk bermimpi dan mempersiapkan masa depan di tengah keterbatasan geografis dan ekonomi. 

Penulis mendapat bagian untuk sesi parenting di SD Inpres Nggaelai Kecamatan Rote Barat Daya. Sesi ini melibatkan orang tua dan pihak sekolah untuk memperkuat ekosistem pendidikan, dan memastikan bahwa harapan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga ditumbuhkan dari dalam keluarga. Sebagai orang tua yang membesarkan enam orang anak dimana, beberapa diantaranya menempuh pendidikan magister,  saya memberikan motifasi dan harapan bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang terindah bagi kita. Anak tidak pernah memilih untuk lahir dari rahim kita, karena itu mereka harus dipelihara dibesarkan secara bertanggung jawab, sampai mereka menjadi generasi yang unggul dan membanggakan nusa bangsa dan terlebih Tuhan yang empunya anak-anak tersebut.

Max Rafferty: Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Fondasi Klasik

Max Rafferty, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan California pada tahun 1960-an, dikenal sebagai sosok konservatif dalam pendidikan. Ia secara vokal mengkritik "pendidikan progresif" yang dianggapnya terlalu permisif dan pragmatis, serta mengampanyekan kembali ke fondasi klasik yaitu disiplin, rasa hormat, patriotisme, penguasaan tabel perkalian, dan pembacaan karya-karya agung (klasik). Bagi Rafferty, pendidikan harus menekankan pembentukan karakter dan ketertiban sebelum pembelajaran dapat terjadi. Meskipun pandangannya sering dianggap nostalgis dan kontroversial pada zamannya, esensi pemikirannya tentang pentingnya disiplin dan nilai-nilai dasar tetap relevan. [ Rafferty, M. (1964). What They Are Doing to Your Children. New American Library. (Dikutip dalam berbagai resensi buku terkait pendidikan karakter dan disiplin) ., [2] Max Rafferty, “Pendidikan Yang Mendalam,” in Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, KOnservatif, Liberalis, Anarkis, ed. Omi Intan Naomi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015).

Rote Mengajar, meskipun tidak secara eksplisit mengadopsi retorika konservatif Rafferty, mengintegrasikan nilai-nilai ini secara substantif. Program ini secara eksplisit menekankan pengembangan karakter, tanggung jawab, dan rasa ingin mengabdi—sebagaimana ditegaskan Bupati Paulus Henuk. Kelas Inspirasi, Parenting Session, dan Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan adalah wahana untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Dengan mendatangkan para profesional dan tokoh masyarakat, program ini menunjukkan kepada siswa bahwa kesuksesan (seperti yang diajarkan Rafferty melalui penekanan pada "pahlawan Amerika") dibangun di atas kerja keras, disiplin, dan integritas yakni nilai-nilai yang tidak lekang oleh zaman.

Relevansi Bagi Rote Ndao: Transformasi Generasi Unggul

Rote Mengajar adalah perpaduan ideal dari tiga arus pemikiran: pembebasan kritis ala Freire, harapan eksistensial ala Tillich, dan penanaman karakter ala Rafferty. Program ini mengakui bahwa pendidikan di Rote Ndao tidak bisa hanya berfokus pada nilai akademis. Seperti yang dikatakan panitia, harapannya adalah "walaupun hanya 1 hari tetapi... anak-anak bisa terinspirasi untuk mulai mempersiapkan cita-cita dan rencana masa depan yang lebih baik sehingga ada transformasi sumber daya manusia di Kabupaten Rote Ndao."

Dari Freire, Rote Mengajar belajar bahwa pendidikan adalah alat pembebasan—membebaskan anak-anak dari "belenggu kebodohan" dan memberikan mereka agensi untuk menulis masa depan mereka sendiri. Dari Tillich, gerakan ini belajar bahwa di tengah segala ketidakpastian, keberanian untuk hadir dan berbagi adalah bentuk harapan radikal. Dan dari Rafferty, program ini belajar bahwa inspirasi tanpa karakter tidak akan berbuah generasi yang unggul dan berdaya saing. Maka, Rote Ndao Mengajar adalah jembatan: menghubungkan mimpi anak-anak Rote Ndao dengan realitas dunia luar, namun tetap menanamkan akar yang kuat pada nilai-nilai luhur.


​Sebagai seorang putra daerah dari Pulau Ndao, saya merasa bangga dan terharu. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah pernyataan bahwa anak-anak Rote Ndao layak mendapat masa depan yang lebih cerah. Mereka layak bertemu dengan para inspirator, layak untuk bermimpi, dan layak untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan.
 
Semangat "Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi" bukan sekadar tagline. Itu adalah janji, sebuah komitmen untuk terus menyalakan api harapan di bumi Rote Ndao, agar generasi mendatang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan berani dalam bertindak. Inilah transformasi yang kita nantikan. Selamat menabur untuk menuai di masa yang akan datang.

​Proviciat untuk Bapak Paulus Henukh, SH. (Bupati Rote Ndao), Ketua Panitia Kakanda Dani Nalle (Plt Skda Rote Ndao, teman masa kecil di Pulau Ndao), dan Kaum muda cerdas yang bekerja luar biasa khususnya Adik Max Fioh (Anak saksi) dan kawan kawan kaum muda yang hebat. Sampai jumpa di Rote Ndao mengajar tahun 2027. Tuhan memberkati kerja keras kalian. Sukses selalu
]]>
<![CDATA[Dr. Daud Saleh Luji Paparkan Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif dalam Seminar Nasional Pascasarjana IAKN Kupang]]>Thu, 23 Jul 2026 07:00:00 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/dr-daud-saleh-luji-mpd-mth-paparkan-ekoteologi-dan-pendidikan-agama-kristen-sebagai-paradigma-transformatif-dalam-seminar-nasional-pascasarjana-iakn-kupang
Kupang, 23 Juli 2026 – Isu krisis lingkungan, khususnya ancaman terhadap ketersediaan air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian utama dalam Seminar Nasional Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026, bertempat di Hotel Sasando Internasional, Kupang.

Dalam seminar tersebut, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th. tampil sebagai narasumber ke empat dengan membawakan materi berjudul “Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif: Membangun Kesadaran Pelestarian Air di Nusa Tenggara Timur dengan Model PAK Berbasis Ekoteologi Kontekstual.”

Dalam paparannya, Dr. Daud Saleh Luji menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai isu ekologis, tetapi telah menjadi persoalan moral, spiritual, dan pendidikan yang memerlukan respons bersama. Menurutnya, Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab iman kepada Allah Sang Pencipta.

Ia menjelaskan bahwa paradigma PAK berbasis Ekoteologi Kontekstual menempatkan pendidikan agama sebagai sarana transformasi sosial yang menghubungkan nilai-nilai iman dengan realitas ekologis yang dihadapi masyarakat. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami ajaran Alkitab tentang mandat manusia sebagai penatalayan ciptaan, tetapi juga didorong untuk mewujudkannya melalui tindakan nyata dalam menjaga dan melestarikan sumber daya air.

"Pelestarian air bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau pemerhati lingkungan, tetapi merupakan panggilan iman bagi setiap orang percaya. Pendidikan Agama Kristen harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kesadaran ekologis, spiritualitas lingkungan, serta komitmen untuk merawat ciptaan Tuhan," ungkap Dr. Daud Saleh Luji di hadapan para peserta seminar.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menghadapi tantangan serius terkait keterbatasan sumber air bersih, perubahan iklim, degradasi daerah resapan, dan kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut lahirnya model pendidikan yang relevan dengan konteks lokal sehingga mampu membangun budaya pelestarian lingkungan sejak usia dini.

Model PAK berbasis Ekoteologi Kontekstual yang dipaparkan mengintegrasikan pembelajaran teologis dengan aksi nyata, seperti konservasi mata air, penghijauan kawasan resapan, pemanfaatan air hujan, gerakan hemat air, serta penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Model ini mengintegrasikan tiga dimensi pendidikan--episteme (pengetahuan), ethos (sikap), dan praxis (tindakan)—dengan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis studi kasus lokal, refleksi biblika kontekstual, pembelajaran berbasis pengalaman dan aksi, serta integrasi kearifan lokal.

Model ini menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen tidak hanya menjadi sarana pembentukan iman, tetapi juga transformasi praksis terhadap realitas lingkungan lokal. Melalui model ini, peserta didik dan komunitas gereja diajak menyadari bahwa pelestarian air adalah bagian integral dari iman Kristen dan panggilan untuk menjadi penatalayan ciptaan Allah yang setia.
Pendekatan ini juga mendorong kolaborasi antara sekolah, gereja, keluarga, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun gerakan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

​Menurut Dr. Daud Saleh Luji, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Oleh karena itu, integrasi ekoteologi dalam Pendidikan Agama Kristen menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki kecerdasan spiritual sekaligus kecerdasan ekologis.
Seminar Nasional Pascasarjana IAKN Kupang yang menghadirkan 4 nara sumber yaitu Dr. Ebenhaezer Nuban Timo, MA  dari UKAW Kupang, Dr. Talita Tlonaen,S.Ag,M.Pd dari STAKRI Kupang. Isidorus Lilijawa,S.Fil,M.Pd sebagai Direktur PERUMDA Air Minum Kota Kupang, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th dari Pascasarjana IAKN Kupang. Untuk berjalannya seminar tersebut  maka Maya Djawa, Ph.D dan Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K ditunjuk sebagai moderator.

Katua Panitia seminar Dr. Simon Kasse,M.Pd.K menegaskan bahwa Seminar ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan para dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana, praktisi pendidikan, serta pemerhati lingkungan untuk mendiskusikan berbagai gagasan inovatif dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

​Melalui forum ilmiah tersebut, diharapkan lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat sinergi antara pendidikan, gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun budaya pelestarian lingkungan demikian kata Direktur Pascasarjana IAKN Kupang Dr, Ezra Tari,M.Th  dalam sambutan penutupan kegiatan seminra tersebut.

​Paradigma Ekoteologi dan Pendidikan Agama Kristen sebagai Paradigma Transformatif diharapkan menjadi salah satu kontribusi akademik yang mampu menginspirasi pengembangan kurikulum, penelitian, maupun praktik pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan ciptaan dan kesejahteraan masyarakat.
]]>
<![CDATA[Mahasiswa IAKN Kupang Gelar UAS Berbasis Implementasi Teologi di GPDI Rajawali Naimata]]>Thu, 02 Jul 2026 07:59:27 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/mahasiswa-iakn-kupang-gelar-uas-berbasis-implementasi-teologi-di-gpdi-rajawali-naimata
Kupang – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) dengan menggelar ujian berbasis implementasi teologi di Gedung Gereja GPDI Rajawali Naimata, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mata kuliah Teologi Perjanjian Baru dan Pengantar Teologi Sistematika yang diampu oleh Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K.
Berbeda dengan ujian tertulis pada umumnya, mahasiswa semester IV dari Kelas A, B, C, dan H serta mahasiswa semester II Kelas D diuji melalui presentasi, drama, refleksi, dan diskusi teologis yang menghubungkan pemahaman akademik dengan praktik kehidupan nyata.
Mengusung tema "Menghidupi Teologi Perjanjian Baru: Menjadi Pribadi, Anggota Keluarga, Pelayan Gereja, dan Calon Guru Kristen yang Transformatif," kegiatan ini bertujuan membentuk mahasiswa agar mampu menginternalisasi nilai-nilai teologi dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja, dan profesi sebagai calon guru Pendidikan Agama Kristen.
Dalam sambutannya, Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K menegaskan bahwa model UAS berbasis implementasi merupakan terobosan pembelajaran yang mampu mengukur pemahaman mahasiswa secara lebih utuh.
"Mahasiswa tidak hanya dinilai dari penguasaan materi teologi secara akademik, tetapi juga dari kemampuan menghidupinya dalam kehidupan bergereja, keluarga, dan masyarakat," ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan, dilanjutkan pengarahan mengenai tema, tujuan, dan kriteria penilaian sebelum mahasiswa menampilkan berbagai karya kreatif sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.
Drama dan Seni Jadi Media Menghidupi TeologiKelas A membuka presentasi melalui drama "Redemptive Love: Kasih yang Memulihkan, Bukan Menghakimi" yang mengangkat materi Injil Sinoptik. Kisah tersebut menggambarkan pergumulan seorang pemuda bernama Aby yang mengalami tekanan hidup namun dipulihkan melalui kasih Tuhan dan kepedulian sesama. Drama ini menekankan pentingnya kasih tanpa syarat, pengampunan, dan sikap tidak menghakimi.
Sementara itu, Kelas B mengangkat kisah Maria berdasarkan Injil Yohanes. Drama tersebut merefleksikan kehidupan mahasiswa dan pemuda masa kini yang aktif dalam pelayanan namun perlahan kehilangan kedekatan dengan Tuhan akibat kesibukan. Pesan yang disampaikan mengajak setiap orang menjaga relasi pribadi dengan Kristus serta menyadari bahwa Tuhan selalu membuka kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat.
Kelas C menghadirkan dua karya sekaligus, yakni drama "Berharga di Mata Tuhan" yang diangkat dari Kitab Kisah Para Rasul serta visualisasi puisi "Kami Kristen." Kedua karya tersebut mengajak peserta merenungkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kasih Allah, sekaligus menegaskan bahwa teologi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Kelas H yang membahas Surat-surat Paulus menampilkan drama yang mengangkat nilai kasih, kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui kisah konflik dan pertobatan para tokohnya, mahasiswa mengajak peserta menjadi pelaku firman dan menghadirkan kesaksian hidup yang memuliakan Tuhan.
Kolaborasi dengan Refleksi Teologi SistematikaKegiatan ini juga melibatkan mahasiswa semester II Kelas D melalui refleksi mata kuliah Pengantar Teologi Sistematika. Mereka tidak hanya mengikuti jalannya presentasi, tetapi juga memberikan tanggapan dan refleksi mengenai implementasi berbagai doktrin dasar iman Kristen, seperti doktrin tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, gereja, dan keselamatan dalam kehidupan pelayanan, keluarga, dan dunia pendidikan.
Kolaborasi lintas semester tersebut memperkaya proses pembelajaran sekaligus memperlihatkan bahwa teologi tidak berhenti sebagai konsep akademik, melainkan menjadi pedoman hidup yang relevan.
Dalam setiap presentasi, mahasiswa diminta merefleksikan empat aspek utama, yaitu pembentukan karakter pribadi sebagai murid Kristus, relasi yang sehat dalam keluarga, kontribusi nyata bagi gereja, serta kesiapan menjadi guru Pendidikan Agama Kristen yang transformatif dan berkarakter Kristus.
​Gereja Apresiasi Model PembelajaranPuncak kegiatan ditandai dengan ibadah penutupan dan pengutusan yang dipimpin Gembala Jemaat GPDI Rajawali Naimata, Pdt. Dr. Robi Kause, M.Th. Dalam khotbah yang diambil dari Kolose 1:15–20, ia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penyataan sempurna Allah, Pencipta yang berotoritas atas segala sesuatu, sekaligus Kepala Gereja yang mendamaikan umat-Nya.
Pdt. Robi Kause memberikan apresiasi tinggi terhadap model UAS yang dilaksanakan di lingkungan gereja.
"Saya sangat terkesan karena Ujian Akhir Semester ini membawa pesan-pesan Teologi Perjanjian Baru keluar dari ruang kelas sehingga menjadi hidup dan relevan dengan pelayanan nyata di tengah jemaat. Model seperti ini patut dipertahankan dan terus dikembangkan," ungkapnya.
Pada akhir kegiatan, seluruh mahasiswa mengikrarkan komitmen untuk menghidupi nilai-nilai Teologi Perjanjian Baru dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja, serta pelayanan pendidikan yang akan mereka jalani sebagai calon guru Agama Kristen.
Dr. Fenetson Pairikas menambahkan bahwa pelaksanaan UAS berbasis implementasi merupakan bagian dari komitmen Program Studi PAK IAKN Kupang dalam mencetak pendidik Kristen yang unggul secara akademik, matang secara spiritual, serta mampu menghadirkan transformasi di tengah masyarakat.
Ia juga mengapresiasi kreativitas dan kerja keras seluruh mahasiswa, termasuk kolaborasi mahasiswa semester II dalam refleksi Teologi Sistematika. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan gereja menjadi bukti nyata bahwa pendidikan teologi yang berkualitas harus menghasilkan lulusan yang berintegritas, profesional, dan mampu menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam setiap aspek kehidupan.
 
]]>
<![CDATA[PENERBIT ALRELANCEGIS DILIRIK LIBRARY OF CONGRESS AMERICAN EMBASSY, BUKU-BUKU NTT BERPELUANG MENJANGKAU DUNIA]]>Wed, 10 Jun 2026 07:00:00 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/penerbit-alrelancegis-dilirik-library-of-congress-american-embassy-buku-buku-ntt-berpeluang-menjangkau-dunia
Kupang, 10 Juni 2026 – Penerbit Alrelancegis Aneka Financial (AAF), yang lebih dikenal sebagai Penerbit Alrelancegis, menerima kunjungan dari perwakilan Library of Congress American Embassy Jakarta, Ibu Nina Kania Dewi, selaku Acquisitions Specialist Southeast Asia Regional Office, pada Rabu (10/6/2026).
Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Direktur Penerbit Alrelancegis, Almi Dodrio Harmony Luji, di kantor penerbit yang beralamat di Jalan Esanita Nomor 9, RT 11 RW 04, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran Nina Kania Dewi bertujuan untuk melihat secara langsung eksistensi dan perkembangan penerbit lokal di NTT, termasuk berbagai karya buku yang telah diterbitkan, baik yang telah memiliki ISBN maupun yang masih dalam proses pengembangan.
Menurut Nina, kunjungannya merupakan bagian dari upaya Library of Congress untuk mengidentifikasi dan mengoleksi karya-karya lokal yang memiliki nilai kontekstual dan merepresentasikan kekayaan pengetahuan daerah.
“Saya datang untuk melihat secara langsung sejumlah penerbit lokal di NTT yang telah menerbitkan buku-buku bernuansa daerah atau karya-karya yang mengangkat kajian kontekstual dari berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, politik, teologi, dan budaya. Karya-karya seperti inilah yang memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari lebih luas,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan khas budaya Timor, Direktur Penerbit Alrelancegis bersama Owner Penerbit, Hanna Balukh, S.Pd., menyambut tamu dengan mengalungkan kain motif Timor di bahu Nina Kania Dewi sebagai simbol selamat datang dan penghargaan.
​Direktur Penerbit Alrelancegis, Almi Dodrio Harmony Luji, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas kunjungan tersebut. Menurutnya, perhatian dari Library of Congress American Embassy Jakarta menjadi motivasi besar bagi penerbit yang baru berdiri pada tahun 2021 itu.
“Penerbit Alrelancegis memang masih tergolong baru dan hingga saat ini baru menerbitkan 16 judul buku. Namun kami sangat bersyukur dan bangga karena keberadaan kami mendapat perhatian dari Library of Congress American Embassy Jakarta. Ini menjadi pengakuan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus berkarya,” kata Almi.
Alumni Program Studi Pendidikan Musik Gerejawi IAKN Kupang itu juga menyampaikan apresiasinya atas pembelian sejumlah buku terbitan Alrelancegis oleh pihak Library of Congress untuk dibawa ke Jakarta.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat membuka peluang yang lebih luas bagi karya-karya penulis NTT untuk dikenal di tingkat internasional.
“Kami berharap ke depan buku-buku terbitan Alrelancegis dapat didistribusikan ke berbagai universitas di Amerika Serikat maupun negara-negara lainnya sehingga dapat menjadi referensi penelitian yang memperkenalkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur,” tambahnya.
​Dalam pertemuan tersebut turut hadir akademisi IAKN Kupang, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th., yang juga merupakan salah satu penulis buku yang diterbitkan oleh Alrelancegis.
Menurut Daud, kehadiran Library of Congress American Embassy Jakarta menjadi penyemangat bagi para penulis di NTT untuk terus menghasilkan karya ilmiah dan buku-buku berkualitas.
“Kehadiran Library of Congress memberikan motivasi bagi para penulis di NTT untuk terus berkarya. Buku yang ditulis tidak hanya akan dibaca oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga berpotensi menjangkau pembaca global. Buku adalah jendela dunia. Banyak hal dapat hilang seiring waktu, tetapi tulisan akan tetap abadi apabila tersimpan dengan baik di perpustakaan maupun dalam dunia digital,” tegasnya.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi perkembangan dunia literasi dan penerbitan di Nusa Tenggara Timur, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi karya-karya lokal untuk dikenal dan dimanfaatkan dalam dunia akademik internasional
]]>
<![CDATA[Dr. Umar Ali Luncurkan Buku Kepemimpinan Transformasional untuk Membangun Sekolah Visioner dan Inovatif]]>Wed, 03 Jun 2026 14:47:35 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/dr-umar-ali-luncurkan-buku-kepemimpinan-transformasional-untuk-membangun-sekolah-visioner-dan-inovatifPicture
Kupang – Akademisi dan praktisi pendidikan asal Nusa Tenggara Timur, Dr. Umar Ali, M.Pd., kembali menorehkan kontribusi penting bagi dunia pendidikan Indonesia melalui peluncuran buku terbarunya yang berjudul Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan: Membangun Sekolah yang Visioner dan Inovatif. Buku tersebut diterbitkan pada Mei 2026 sebagai respons terhadap dinamika dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung secara cepat.
Dr. Umar Ali lahir di Lamahala, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Februari 1968. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Manajemen Pendidikan pada Universitas Negeri Malang tahun 2011. Kariernya dimulai sebagai guru dan dosen sebelum kemudian dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis dalam dunia pendidikan.
Sebagai tokoh pendidikan, Umar Ali dikenal sebagai perintis sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kupang. Sejak tahun 2020, ia tercatat sebagai Dosen Tetap ASN di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang dan pernah menjabat sebagai Direktur Pascasarjana IAKN Kupang.
Selain kiprahnya di dunia akademik, Umar Ali juga memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidikan Islam pada Kementerian Agama Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Di bidang organisasi, ia aktif dalam Muhammadiyah, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dalam kata pengantar bukunya, Umar Ali menjelaskan bahwa pendidikan saat ini tidak lagi cukup dikelola dengan pendekatan administratif dan birokratis semata. Menurutnya, lembaga pendidikan membutuhkan model kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan, menginspirasi, serta memberdayakan seluruh warga sekolah.
“Dalam konteks tersebut, kepemimpinan transformasional menjadi salah satu pendekatan strategis yang relevan untuk menjawab tuntutan peningkatan mutu pendidikan. Kepemimpinan ini menekankan pentingnya visi bersama, komunikasi dialogis, pemberdayaan guru, inovasi pembelajaran, serta pembentukan budaya sekolah yang kolaboratif dan reflektif,” tulis Umar dalam bukunya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa buku tersebut disusun untuk memberikan pemahaman konseptual dan teoretis mengenai kepemimpinan transformasional yang didukung oleh kajian pustaka dan refleksi praktik di lapangan. Pembahasannya mencakup konsep dasar kepemimpinan transformasional, peran kepala sekolah dan guru sebagai agen perubahan, strategi implementasi kepemimpinan transformasional, faktor pendukung dan penghambat inovasi, hingga berbagai studi kasus dan praktik terbaik di satuan pendidikan.
Melalui buku ini, Umar berharap para pemimpin pendidikan memperoleh panduan yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga aplikatif dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan pendidikan modern.
“Buku ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan panduan reflektif dan aplikatif bagi para pemimpin pendidikan,” ujarnya.

​Meski demikian, Umar Ali mengakui bahwa karya tersebut masih memiliki berbagai keterbatasan. Karena itu, ia membuka ruang bagi kritik dan saran konstruktif sebagai bagian dari proses penyempurnaan di masa mendatang.
Ia berharap buku tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan kepemimpinan pendidikan di Indonesia serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun sekolah yang visioner, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Peluncuran buku ini sekaligus menegaskan komitmen Dr. Umar Ali dalam mendorong transformasi pendidikan melalui penguatan kepemimpinan yang adaptif, inspiratif, dan berdaya saing di era perubahan yang terus berkembang. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini. Terutama pihak penerbit Alrelancegis dan semua rekan dosen yang tak dapat disebutkan satu persatu. Tuhan yanh maha Kuasa senantiasa memberkahi kita dengan rahmatNya
]]>
<![CDATA[MEMBANGUN JEMAAT, MERAWAT INDONESIA: MENGHIDUPI NILAI-NILAI PANCASILA DARI NTT]]>Mon, 01 Jun 2026 23:30:22 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/june-01st-2026

 Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K (Dosen Pascasarjana IAKN Kupang)

​Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk mengenang dasar negara yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Namun, di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Pancasila masih diakui sebagai dasar negara, melainkan apakah nilai-nilainya masih sungguh-sungguh hidup dalam kehidupan masyarakat. Persoalan terbesar Indonesia dewasa ini tampaknya bukan krisis ideologi, melainkan krisis solidaritas sosial.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, masyarakat justru menghadapi gejala menguatnya individualisme, polarisasi sosial, menurunnya kepercayaan antarkelompok, serta melemahnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Data empiris menunjukkan kondisi ini bukan sekadar kekhawatiran normatif. Sebuah studi pada 2025 mengungkap bahwa hanya 39,1 persen anak muda Indonesia yang masih aktif mempraktikkan gotong royong dalam keseharian mereka. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, partisipasi masyarakat dalam kerja bakti di desa turun drastis dari 45 persen (2018) menjadi hanya 30 persen. Bahkan, sebanyak 47,8 persen generasi muda mengalami krisis identitas akibat perubahan kebiasaan sosial, dan 68 persen memahami toleransi hanya secara teoretis tanpa implementasi substantif. Indeks kedermawanan juga menunjukkan penurunan: rata-rata donasi masyarakat Indonesia hanya 1,55 persen dari pendapatan per tahun, meskipun angka ini masih di atas rata-rata global 1,04 persen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama Pancasila pada abad ke-21 bukan lagi mempertahankan keberadaannya sebagai dasar negara, melainkan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak akan kehilangan relevansinya karena adanya ideologi lain, tetapi dapat kehilangan daya hidupnya ketika masyarakat gagal menerjemahkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam tindakan nyata. Karena itu, Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi untuk mencari cara-cara konkret menghidupkan kembali solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam konteks tersebut, pembangunan jemaat memiliki relevansi yang sangat penting. Selama ini pembangunan jemaat sering dipahami secara sempit sebagai pertumbuhan jumlah anggota gereja, peningkatan aktivitas pelayanan, atau pembangunan sarana fisik gereja. Padahal, hakikat pembangunan jemaat jauh lebih mendalam daripada sekadar pertumbuhan institusional. Pembangunan jemaat adalah proses membentuk komunitas yang bertumbuh dalam iman sekaligus menghadirkan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Jemaat yang dibangun dengan baik tidak hanya menghasilkan orang-orang yang aktif beribadah, tetapi juga melahirkan warga masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, menghargai keberagaman, mampu membangun dialog, dan terlibat dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan bersama.
Di sinilah pembangunan jemaat bertemu dengan nilai-nilai Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong gereja untuk memperjuangkan martabat manusia tanpa membedakan latar belakang sosial, budaya, maupun agama. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan pentingnya membangun relasi yang melampaui batas-batas identitas kelompok. Sila Kerakyatan mengajarkan budaya dialog, musyawarah, dan partisipasi. Sementara sila Keadilan Sosial mendorong keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin, dan termarginalkan. Dengan demikian, pembangunan jemaat pada dasarnya merupakan proses pembentukan warga negara yang mampu menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran ini menjadi semakin penting ketika berbagai persoalan sosial menunjukkan adanya gejala melemahnya solidaritas dalam masyarakat. Tidak sedikit konflik sosial berawal dari ketidakmampuan menerima perbedaan. Tidak sedikit pula persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kerentanan sosial yang berlangsung karena rendahnya kepedulian terhadap sesama. Dalam situasi seperti ini, gereja tidak cukup hanya menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Gereja perlu menjadi ruang pembelajaran sosial yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Ketika jemaat dibentuk untuk peduli terhadap persoalan masyarakat, membantu kelompok rentan, serta membangun relasi yang harmonis dengan berbagai kelompok sosial, sesungguhnya gereja sedang berkontribusi memperkuat fondasi kehidupan kebangsaan.
Perspektif tersebut sangat relevan dalam konteks Nusa Tenggara Timur. NTT dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi komunal yang kuat. Berbagai komunitas di daerah ini masih memelihara nilai kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan masyarakat sekaligus mencerminkan semangat Pancasila yang hidup dalam budaya lokal.
Namun, NTT juga menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan laporan BPS Maret 2025, persentase penduduk miskin di NTT mencapai 18,60 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 8,47 persen. Bahkan, Kabupaten Sumba Tengah mencatat angka tertinggi hingga 29,23 persen. Garis kemiskinan di NTT juga terus meningkat, dari Rp549.607 (Maret 2025) menjadi Rp563.052 per kapita per bulan (September 2025). Selain itu, prevalensi stunting di provinsi ini masih memprihatinkan, berkisar pada angka 37 persen. Di beberapa daerah seperti Manggarai, angkanya sempat melonjak dari 9 persen menjadi 13 persen hanya dalam periode enam bulan di tahun 2025. Di Kota Kupang sendiri, kasus stunting hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 29 persen. Meskipun BKKBN NTT berhasil melampaui target pendampingan keluarga berisiko stunting (mendampingi 41.941 keluarga dari target 28.615), laporan menyebutkan bahwa penggelontoran dana ratusan miliar rupiah belum banyak membuahkan hasil yang signifikan. Persoalan kemiskinan, kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, stunting, migrasi tenaga kerja, dan berbagai bentuk ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Tantangan tersebut tidak mungkin ditangani hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan dan institusi pendidikan tinggi. Dalam konteks inilah pembangunan jemaat menjadi penting sebagai strategi sosial yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan bersama. Jemaat yang bertumbuh dalam semangat pelayanan dan solidaritas dapat menjadi kekuatan sosial yang signifikan. Mereka dapat terlibat dalam pendidikan masyarakat, pendampingan keluarga, pemberdayaan ekonomi, penguatan karakter generasi muda, hingga pengembangan berbagai program sosial yang menjawab kebutuhan lokal. Ketika gereja mengambil peran tersebut, pembangunan jemaat tidak lagi menjadi agenda internal gereja, melainkan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan bangsa.
Model Nyata: Ketika Gereja Menjadi Agen Perubahan di NTT
Di tengah tantangan yang demikian besar, telah hadir sejumlah praktik baik yang menunjukkan bahwa pembangunan jemaat yang transformatif bukan sekadar wacana. Beberapa contoh konkret di NTT dapat menjadi teladan:
Pertama, GG Mart. Bank Indonesia bersama Sinode GMIT meluncurkan toko yang memasarkan produk pangan lokal karya jemaat di seluruh NTT. Program ini tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, tetapi juga representasi nyata pemberdayaan jemaat yang berdaya saing. GG Mart melibatkan tiga bentuk kerja sama: peningkatan kompetensi pendeta dan jemaat, implementasi di sektor pertanian di Rote Ndao dan Kupang, serta peningkatan nilai tambah produk pangan lokal.
Kedua, Kebun Jemaat Haumeni Nisum di Kabupaten Kupang. Melalui kerja sama antara Pemkab Kupang dan Polda NTT, lahan gereja dimanfaatkan menjadi kebun produktif yang dikelola secara kolektif oleh 76 kepala keluarga dengan sistem gotong royong. Hasilnya, kebun ini menghasilkan pendapatan sebesar Rp3.500.000 yang digunakan untuk pembangunan menara dan ruang konsistori gereja. Gubernur Melki Laka Lena bahkan mendorong produk komunitas gereja untuk masuk ke pasar yang lebih luas melalui NTT Mart.
Ketiga, Seminar Social Churchpreneurship yang diselenggarakan bagi jemaat GMIT Nekaf Mese Naioni. Kegiatan ini bertujuan mengatasi permasalahan sosial-ekonomi jemaat melalui pendekatan churchpreneurship atau kewirausahaan gerejawi, yang menggabungkan semangat pelayanan dengan keterampilan usaha produktif.
Ketiga contoh di atas membuktikan bahwa pembangunan jemaat dapat menjadi kekuatan sosial yang nyata. Gereja tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga dalam pasar, kebun, dan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat.
Peran strategis tersebut juga berkaitan erat dengan keberadaan Institut Agama Kristen Negeri Kupang sebagai perguruan tinggi keagamaan negeri di kawasan Indonesia Timur. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, IAKN Kupang tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan spiritual, tetapi juga membentuk pemimpin yang memiliki kesadaran sosial dan komitmen kebangsaan yang kuat. Kampus memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran konstruktif mengenai hubungan antara iman, masyarakat, budaya, dan pembangunan nasional.
Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, IAKN Kupang dapat menjadi pusat pengembangan gagasan pembangunan jemaat yang kontekstual dan transformatif. Pendekatan tersebut penting agar gereja tidak terjebak pada orientasi internal semata, tetapi mampu hadir sebagai agen perubahan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak hanya berkontribusi bagi pengembangan gereja, tetapi juga bagi penguatan kehidupan kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Pada akhirnya, kekuatan Pancasila tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai dasar negara, melainkan pada kemampuannya menginspirasi kehidupan masyarakat. Pancasila akan tetap hidup apabila nilai-nilainya diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperkuat persaudaraan, membangun kepercayaan sosial, menghargai martabat manusia, dan memperjuangkan keadilan bagi semua. Sebaliknya, Pancasila akan kehilangan daya transformasinya apabila hanya menjadi slogan yang diperingati setiap tahun tanpa penghayatan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, sebagai ikhtiar bersama, berikut beberapa rekomendasi terukur yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak:
Bagi gereja dan jemaat:
  1. Kembangkan koperasi jemaat sebagai lembaga ekonomi yang berbadan hukum, dengan target peningkatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan sebesar 20 persen per tahun.
  2. Selenggarakan pelatihan digitalisasi ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi seluruh pengurus jemaat dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
  3. Bentuk tim pendampingan bagi minimal 10 keluarga pra-sejahtera di sekitar gereja (tanpa membedakan latar belakang agama) untuk program pengentasan stunting dan kemiskinan.
  4. Gandeng tokoh agama lain untuk menginisiasi program bakti sosial bersama minimal dua kali setahun sebagai wujud nyata menjaga kerukunan.
Bagi IAKN Kupang:
  1. Integrasikan mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Kewirausahaan Sosial ke dalam kurikulum semua program studi sebagai mata kuliah wajib (minimal 3 SKS).
  2. Selenggarakan hibah penelitian internal bagi dosen dan mahasiswa yang mengangkat tema "Pembangunan Jemaat dan Pengentasan Kemiskinan di NTT" dengan output berupa model pendampingan yang teruji.
  3. Tetapkan minimal tiga desa binaan di kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi (Sumba Tengah, Sabu Raijua, Sumba Barat) sebagai laboratorium lapangan pengabdian masyarakat jangka panjang.
  4. Dirikan "Pusat Studi Pancasila dan Pembangunan Jemaat" yang bertugas mempublikasikan minimal empat artikel ilmiah per tahun tentang aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks keagamaan di NTT.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait:
  1. Berikan penghargaan (award) dan insentif fiskal bagi gereja yang memiliki program pemberdayaan ekonomi atau sosial yang terbukti berdampak pada penurunan angka kemiskinan di wilayahnya.
  2. Libatkan sinode gereja sebagai mitra resmi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendampingan keluarga berisiko stunting (Bangga Kencana), dan program ketahanan pangan daerah.
  3. Buka akses data mikro kemiskinan dan kesehatan bagi lembaga keagamaan yang memiliki kapasitas pendampingan, dengan tetap menjaga kerahasiaan data.
Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas solidaritas sosial warganya. Dalam konteks itu, pembangunan jemaat bukan sekadar agenda gerejawi, melainkan bagian dari ikhtiar kebangsaan. Ketika gereja berhasil membangun komunitas yang peduli, inklusif, dan transformatif, sesungguhnya gereja sedang ikut merawat Indonesia. Dari Nusa Tenggara Timur, semangat tersebut dapat menjadi kontribusi nyata untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dari tingkat akar rumput, sehingga cita-cita tentang Indonesia yang bersatu, adil, dan bermartabat terus terjaga lintas generasi.
Selamat merayakan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

]]>
<![CDATA[Pascasarjana IAKN Kupang Gelar Pengabdian kepada Masyarakat bagi Pengajar GMIT Klasis Belu]]>Wed, 20 May 2026 02:11:44 GMThttp://www.penerbitalrelancegis.com/berita/pascasarjana-iakn-kupang-gelar-pengabdian-kepada-masyarakat-bagi-pengajar-gmit-klasis-belu

Atambua, 6 Mei 2026
– Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di wilayah GMIT Klasis Belu pada tanggal 4–6 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Serba Guna Jemaat GMIT Polycarpus Atambua dan diikuti oleh 45 peserta yang merupakan para pengajar jemaat dari 10 jemaat di lingkungan GMIT Klasis Belu.
Kegiatan PkM ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pengajar jemaat dalam menjalankan tugas pelayanan pendidikan Kristen, khususnya dalam pengajaran kepada anak dan remaja di gereja.
​Tim PkM Pascasarjana IAKN Kupang dipimpin oleh Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th. selaku ketua tim, dengan anggota Dr. Hemi D. Bara Pa, M.P.K., Maya Djawa, Ph.D., serta Aprilianus Laiskodat, mahasiswa Program Magister.
Acara diawali dengan laporan ketua tim, dilanjutkan dengan sambutan Wakil Direktur Pascasarjana IAKN Kupang. Ketua Majelis Klasis Belu kemudian menyampaikan sambutan sekaligus secara resmi membuka kegiatan. Setelah doa pembukaan dan sesi foto bersama, para peserta mengikuti rangkaian materi yang telah disiapkan.

​Materi pertama disampaikan oleh Maya Djawa, Ph.D., M.Pd.K., dengan topik “Tugas dan Fungsi Jabatan Pengajar di GMIT”. Sesi ini dimoderatori oleh Pdt. Mery Nitbani, S.Th. Dalam pemaparannya, Maya menekankan pentingnya peran pengajar sebagai pelayan firman yang bertanggung jawab membentuk iman warga jemaat. Materi ini dilanjutkan dengan diskusi dan pendalaman sesuai dengan konteks pelayanan masing-masing peserta.
Materi kedua dibawakan oleh Dr. Hemi D. Bara Pa, M.P.K., dengan topik “Metode Mengajar bagi Anak dan Remaja”. Moderator dalam sesi ini adalah Pdt. Para Manggi Uly, S.Th., selaku Ketua Majelis Klasis Belu. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pendekatan pembelajaran berbasis afektif yang menekankan pembentukan sikap dan karakter peserta didik.
Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th., dengan topik “Teori dan Teknik Dasar Panggung Boneka untuk Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Jemaat.” Selain teori, peserta juga mengikuti pelatihan desain cerita, praktik penggunaan panggung boneka, dan simulasi kelompok untuk mengembangkan media pembelajaran kreatif bagi anak-anak Sekolah Minggu.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara Pascasarjana IAKN Kupang dan GMIT Klasis Belu. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Direktur Pascasarjana IAKN Kupang bersama Ketua Majelis Klasis Belu sebagai bentuk komitmen kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ditutup secara resmi oleh Ketua Majelis Jemaat GMIT Polycarpus Atambua, Pdt. Mery Nitbani, S.Th., selaku tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi Pascasarjana IAKN Kupang dalam memperlengkapi para pengajar jemaat untuk melayani secara lebih kreatif dan efektif.
Melalui kegiatan ini, Pascasarjana IAKN Kupang menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan mutu pelayanan gereja melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya para pengajar yang berperan strategis dalam pembinaan iman generasi muda gereja.
]]>