PENERBIT ALRELANCEGIS
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
  • Home
  • BERITA
  • KATALOG
  • PROFIL
  • Contact
BERITA & OPINI

PENERBIT ALRELANCEGIS DILIRIK LIBRARY OF CONGRESS AMERICAN EMBASSY, BUKU-BUKU NTT BERPELUANG MENJANGKAU DUNIA

6/10/2026

0 Comments

 
Picture
​Kupang, 10 Juni 2026 – Penerbit Alrelancegis Aneka Financial (AAF), yang lebih dikenal sebagai Penerbit Alrelancegis, menerima kunjungan dari perwakilan Library of Congress American Embassy Jakarta, Ibu Nina Kania Dewi, selaku Acquisitions Specialist Southeast Asia Regional Office, pada Rabu (10/6/2026).
Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Direktur Penerbit Alrelancegis, Almi Dodrio Harmony Luji, di kantor penerbit yang beralamat di Jalan Esanita Nomor 9, RT 11 RW 04, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran Nina Kania Dewi bertujuan untuk melihat secara langsung eksistensi dan perkembangan penerbit lokal di NTT, termasuk berbagai karya buku yang telah diterbitkan, baik yang telah memiliki ISBN maupun yang masih dalam proses pengembangan.
Menurut Nina, kunjungannya merupakan bagian dari upaya Library of Congress untuk mengidentifikasi dan mengoleksi karya-karya lokal yang memiliki nilai kontekstual dan merepresentasikan kekayaan pengetahuan daerah.
“Saya datang untuk melihat secara langsung sejumlah penerbit lokal di NTT yang telah menerbitkan buku-buku bernuansa daerah atau karya-karya yang mengangkat kajian kontekstual dari berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, politik, teologi, dan budaya. Karya-karya seperti inilah yang memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari lebih luas,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan khas budaya Timor, Direktur Penerbit Alrelancegis bersama Owner Penerbit, Hanna Balukh, S.Pd., menyambut tamu dengan mengalungkan kain motif Timor di bahu Nina Kania Dewi sebagai simbol selamat datang dan penghargaan.
​Direktur Penerbit Alrelancegis, Almi Dodrio Harmony Luji, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas kunjungan tersebut. Menurutnya, perhatian dari Library of Congress American Embassy Jakarta menjadi motivasi besar bagi penerbit yang baru berdiri pada tahun 2021 itu.
“Penerbit Alrelancegis memang masih tergolong baru dan hingga saat ini baru menerbitkan 16 judul buku. Namun kami sangat bersyukur dan bangga karena keberadaan kami mendapat perhatian dari Library of Congress American Embassy Jakarta. Ini menjadi pengakuan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus berkarya,” kata Almi.
Alumni Program Studi Pendidikan Musik Gerejawi IAKN Kupang itu juga menyampaikan apresiasinya atas pembelian sejumlah buku terbitan Alrelancegis oleh pihak Library of Congress untuk dibawa ke Jakarta.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat membuka peluang yang lebih luas bagi karya-karya penulis NTT untuk dikenal di tingkat internasional.
“Kami berharap ke depan buku-buku terbitan Alrelancegis dapat didistribusikan ke berbagai universitas di Amerika Serikat maupun negara-negara lainnya sehingga dapat menjadi referensi penelitian yang memperkenalkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur,” tambahnya.
View my profile on LinkedIn
​Dalam pertemuan tersebut turut hadir akademisi IAKN Kupang, Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th., yang juga merupakan salah satu penulis buku yang diterbitkan oleh Alrelancegis.
Menurut Daud, kehadiran Library of Congress American Embassy Jakarta menjadi penyemangat bagi para penulis di NTT untuk terus menghasilkan karya ilmiah dan buku-buku berkualitas.
“Kehadiran Library of Congress memberikan motivasi bagi para penulis di NTT untuk terus berkarya. Buku yang ditulis tidak hanya akan dibaca oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga berpotensi menjangkau pembaca global. Buku adalah jendela dunia. Banyak hal dapat hilang seiring waktu, tetapi tulisan akan tetap abadi apabila tersimpan dengan baik di perpustakaan maupun dalam dunia digital,” tegasnya.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi perkembangan dunia literasi dan penerbitan di Nusa Tenggara Timur, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi karya-karya lokal untuk dikenal dan dimanfaatkan dalam dunia akademik internasional
0 Comments

Dr. Umar Ali Luncurkan Buku Kepemimpinan Transformasional untuk Membangun Sekolah Visioner dan Inovatif

6/3/2026

1 Comment

 
Picture
​Kupang – Akademisi dan praktisi pendidikan asal Nusa Tenggara Timur, Dr. Umar Ali, M.Pd., kembali menorehkan kontribusi penting bagi dunia pendidikan Indonesia melalui peluncuran buku terbarunya yang berjudul Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan: Membangun Sekolah yang Visioner dan Inovatif. Buku tersebut diterbitkan pada Mei 2026 sebagai respons terhadap dinamika dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung secara cepat.
Dr. Umar Ali lahir di Lamahala, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Februari 1968. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Manajemen Pendidikan pada Universitas Negeri Malang tahun 2011. Kariernya dimulai sebagai guru dan dosen sebelum kemudian dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis dalam dunia pendidikan.
Sebagai tokoh pendidikan, Umar Ali dikenal sebagai perintis sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kupang. Sejak tahun 2020, ia tercatat sebagai Dosen Tetap ASN di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang dan pernah menjabat sebagai Direktur Pascasarjana IAKN Kupang.
Selain kiprahnya di dunia akademik, Umar Ali juga memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidikan Islam pada Kementerian Agama Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Di bidang organisasi, ia aktif dalam Muhammadiyah, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dalam kata pengantar bukunya, Umar Ali menjelaskan bahwa pendidikan saat ini tidak lagi cukup dikelola dengan pendekatan administratif dan birokratis semata. Menurutnya, lembaga pendidikan membutuhkan model kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan, menginspirasi, serta memberdayakan seluruh warga sekolah.
“Dalam konteks tersebut, kepemimpinan transformasional menjadi salah satu pendekatan strategis yang relevan untuk menjawab tuntutan peningkatan mutu pendidikan. Kepemimpinan ini menekankan pentingnya visi bersama, komunikasi dialogis, pemberdayaan guru, inovasi pembelajaran, serta pembentukan budaya sekolah yang kolaboratif dan reflektif,” tulis Umar dalam bukunya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa buku tersebut disusun untuk memberikan pemahaman konseptual dan teoretis mengenai kepemimpinan transformasional yang didukung oleh kajian pustaka dan refleksi praktik di lapangan. Pembahasannya mencakup konsep dasar kepemimpinan transformasional, peran kepala sekolah dan guru sebagai agen perubahan, strategi implementasi kepemimpinan transformasional, faktor pendukung dan penghambat inovasi, hingga berbagai studi kasus dan praktik terbaik di satuan pendidikan.
Melalui buku ini, Umar berharap para pemimpin pendidikan memperoleh panduan yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga aplikatif dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan pendidikan modern.
“Buku ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan panduan reflektif dan aplikatif bagi para pemimpin pendidikan,” ujarnya.

Picture
​Meski demikian, Umar Ali mengakui bahwa karya tersebut masih memiliki berbagai keterbatasan. Karena itu, ia membuka ruang bagi kritik dan saran konstruktif sebagai bagian dari proses penyempurnaan di masa mendatang.
Ia berharap buku tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan kepemimpinan pendidikan di Indonesia serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun sekolah yang visioner, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Peluncuran buku ini sekaligus menegaskan komitmen Dr. Umar Ali dalam mendorong transformasi pendidikan melalui penguatan kepemimpinan yang adaptif, inspiratif, dan berdaya saing di era perubahan yang terus berkembang. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini. Terutama pihak penerbit Alrelancegis dan semua rekan dosen yang tak dapat disebutkan satu persatu. Tuhan yanh maha Kuasa senantiasa memberkahi kita dengan rahmatNya
1 Comment

MEMBANGUN JEMAAT, MERAWAT INDONESIA: MENGHIDUPI NILAI-NILAI PANCASILA DARI NTT

6/1/2026

0 Comments

 
Picture

 Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K (Dosen Pascasarjana IAKN Kupang)

​Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk mengenang dasar negara yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Namun, di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Pancasila masih diakui sebagai dasar negara, melainkan apakah nilai-nilainya masih sungguh-sungguh hidup dalam kehidupan masyarakat. Persoalan terbesar Indonesia dewasa ini tampaknya bukan krisis ideologi, melainkan krisis solidaritas sosial.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, masyarakat justru menghadapi gejala menguatnya individualisme, polarisasi sosial, menurunnya kepercayaan antarkelompok, serta melemahnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Data empiris menunjukkan kondisi ini bukan sekadar kekhawatiran normatif. Sebuah studi pada 2025 mengungkap bahwa hanya 39,1 persen anak muda Indonesia yang masih aktif mempraktikkan gotong royong dalam keseharian mereka. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, partisipasi masyarakat dalam kerja bakti di desa turun drastis dari 45 persen (2018) menjadi hanya 30 persen. Bahkan, sebanyak 47,8 persen generasi muda mengalami krisis identitas akibat perubahan kebiasaan sosial, dan 68 persen memahami toleransi hanya secara teoretis tanpa implementasi substantif. Indeks kedermawanan juga menunjukkan penurunan: rata-rata donasi masyarakat Indonesia hanya 1,55 persen dari pendapatan per tahun, meskipun angka ini masih di atas rata-rata global 1,04 persen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama Pancasila pada abad ke-21 bukan lagi mempertahankan keberadaannya sebagai dasar negara, melainkan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak akan kehilangan relevansinya karena adanya ideologi lain, tetapi dapat kehilangan daya hidupnya ketika masyarakat gagal menerjemahkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam tindakan nyata. Karena itu, Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi untuk mencari cara-cara konkret menghidupkan kembali solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam konteks tersebut, pembangunan jemaat memiliki relevansi yang sangat penting. Selama ini pembangunan jemaat sering dipahami secara sempit sebagai pertumbuhan jumlah anggota gereja, peningkatan aktivitas pelayanan, atau pembangunan sarana fisik gereja. Padahal, hakikat pembangunan jemaat jauh lebih mendalam daripada sekadar pertumbuhan institusional. Pembangunan jemaat adalah proses membentuk komunitas yang bertumbuh dalam iman sekaligus menghadirkan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Jemaat yang dibangun dengan baik tidak hanya menghasilkan orang-orang yang aktif beribadah, tetapi juga melahirkan warga masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, menghargai keberagaman, mampu membangun dialog, dan terlibat dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan bersama.
Di sinilah pembangunan jemaat bertemu dengan nilai-nilai Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong gereja untuk memperjuangkan martabat manusia tanpa membedakan latar belakang sosial, budaya, maupun agama. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan pentingnya membangun relasi yang melampaui batas-batas identitas kelompok. Sila Kerakyatan mengajarkan budaya dialog, musyawarah, dan partisipasi. Sementara sila Keadilan Sosial mendorong keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin, dan termarginalkan. Dengan demikian, pembangunan jemaat pada dasarnya merupakan proses pembentukan warga negara yang mampu menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran ini menjadi semakin penting ketika berbagai persoalan sosial menunjukkan adanya gejala melemahnya solidaritas dalam masyarakat. Tidak sedikit konflik sosial berawal dari ketidakmampuan menerima perbedaan. Tidak sedikit pula persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kerentanan sosial yang berlangsung karena rendahnya kepedulian terhadap sesama. Dalam situasi seperti ini, gereja tidak cukup hanya menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Gereja perlu menjadi ruang pembelajaran sosial yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Ketika jemaat dibentuk untuk peduli terhadap persoalan masyarakat, membantu kelompok rentan, serta membangun relasi yang harmonis dengan berbagai kelompok sosial, sesungguhnya gereja sedang berkontribusi memperkuat fondasi kehidupan kebangsaan.
Perspektif tersebut sangat relevan dalam konteks Nusa Tenggara Timur. NTT dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi komunal yang kuat. Berbagai komunitas di daerah ini masih memelihara nilai kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan masyarakat sekaligus mencerminkan semangat Pancasila yang hidup dalam budaya lokal.
Namun, NTT juga menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan laporan BPS Maret 2025, persentase penduduk miskin di NTT mencapai 18,60 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 8,47 persen. Bahkan, Kabupaten Sumba Tengah mencatat angka tertinggi hingga 29,23 persen. Garis kemiskinan di NTT juga terus meningkat, dari Rp549.607 (Maret 2025) menjadi Rp563.052 per kapita per bulan (September 2025). Selain itu, prevalensi stunting di provinsi ini masih memprihatinkan, berkisar pada angka 37 persen. Di beberapa daerah seperti Manggarai, angkanya sempat melonjak dari 9 persen menjadi 13 persen hanya dalam periode enam bulan di tahun 2025. Di Kota Kupang sendiri, kasus stunting hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 29 persen. Meskipun BKKBN NTT berhasil melampaui target pendampingan keluarga berisiko stunting (mendampingi 41.941 keluarga dari target 28.615), laporan menyebutkan bahwa penggelontoran dana ratusan miliar rupiah belum banyak membuahkan hasil yang signifikan. Persoalan kemiskinan, kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, stunting, migrasi tenaga kerja, dan berbagai bentuk ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Tantangan tersebut tidak mungkin ditangani hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan dan institusi pendidikan tinggi. Dalam konteks inilah pembangunan jemaat menjadi penting sebagai strategi sosial yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan bersama. Jemaat yang bertumbuh dalam semangat pelayanan dan solidaritas dapat menjadi kekuatan sosial yang signifikan. Mereka dapat terlibat dalam pendidikan masyarakat, pendampingan keluarga, pemberdayaan ekonomi, penguatan karakter generasi muda, hingga pengembangan berbagai program sosial yang menjawab kebutuhan lokal. Ketika gereja mengambil peran tersebut, pembangunan jemaat tidak lagi menjadi agenda internal gereja, melainkan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan bangsa.
Model Nyata: Ketika Gereja Menjadi Agen Perubahan di NTT
Di tengah tantangan yang demikian besar, telah hadir sejumlah praktik baik yang menunjukkan bahwa pembangunan jemaat yang transformatif bukan sekadar wacana. Beberapa contoh konkret di NTT dapat menjadi teladan:
Pertama, GG Mart. Bank Indonesia bersama Sinode GMIT meluncurkan toko yang memasarkan produk pangan lokal karya jemaat di seluruh NTT. Program ini tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, tetapi juga representasi nyata pemberdayaan jemaat yang berdaya saing. GG Mart melibatkan tiga bentuk kerja sama: peningkatan kompetensi pendeta dan jemaat, implementasi di sektor pertanian di Rote Ndao dan Kupang, serta peningkatan nilai tambah produk pangan lokal.
Kedua, Kebun Jemaat Haumeni Nisum di Kabupaten Kupang. Melalui kerja sama antara Pemkab Kupang dan Polda NTT, lahan gereja dimanfaatkan menjadi kebun produktif yang dikelola secara kolektif oleh 76 kepala keluarga dengan sistem gotong royong. Hasilnya, kebun ini menghasilkan pendapatan sebesar Rp3.500.000 yang digunakan untuk pembangunan menara dan ruang konsistori gereja. Gubernur Melki Laka Lena bahkan mendorong produk komunitas gereja untuk masuk ke pasar yang lebih luas melalui NTT Mart.
Ketiga, Seminar Social Churchpreneurship yang diselenggarakan bagi jemaat GMIT Nekaf Mese Naioni. Kegiatan ini bertujuan mengatasi permasalahan sosial-ekonomi jemaat melalui pendekatan churchpreneurship atau kewirausahaan gerejawi, yang menggabungkan semangat pelayanan dengan keterampilan usaha produktif.
Ketiga contoh di atas membuktikan bahwa pembangunan jemaat dapat menjadi kekuatan sosial yang nyata. Gereja tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga dalam pasar, kebun, dan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat.
Peran strategis tersebut juga berkaitan erat dengan keberadaan Institut Agama Kristen Negeri Kupang sebagai perguruan tinggi keagamaan negeri di kawasan Indonesia Timur. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, IAKN Kupang tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan spiritual, tetapi juga membentuk pemimpin yang memiliki kesadaran sosial dan komitmen kebangsaan yang kuat. Kampus memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran konstruktif mengenai hubungan antara iman, masyarakat, budaya, dan pembangunan nasional.
Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, IAKN Kupang dapat menjadi pusat pengembangan gagasan pembangunan jemaat yang kontekstual dan transformatif. Pendekatan tersebut penting agar gereja tidak terjebak pada orientasi internal semata, tetapi mampu hadir sebagai agen perubahan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak hanya berkontribusi bagi pengembangan gereja, tetapi juga bagi penguatan kehidupan kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Pada akhirnya, kekuatan Pancasila tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai dasar negara, melainkan pada kemampuannya menginspirasi kehidupan masyarakat. Pancasila akan tetap hidup apabila nilai-nilainya diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperkuat persaudaraan, membangun kepercayaan sosial, menghargai martabat manusia, dan memperjuangkan keadilan bagi semua. Sebaliknya, Pancasila akan kehilangan daya transformasinya apabila hanya menjadi slogan yang diperingati setiap tahun tanpa penghayatan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, sebagai ikhtiar bersama, berikut beberapa rekomendasi terukur yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak:
Bagi gereja dan jemaat:
  1. Kembangkan koperasi jemaat sebagai lembaga ekonomi yang berbadan hukum, dengan target peningkatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan sebesar 20 persen per tahun.
  2. Selenggarakan pelatihan digitalisasi ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi seluruh pengurus jemaat dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
  3. Bentuk tim pendampingan bagi minimal 10 keluarga pra-sejahtera di sekitar gereja (tanpa membedakan latar belakang agama) untuk program pengentasan stunting dan kemiskinan.
  4. Gandeng tokoh agama lain untuk menginisiasi program bakti sosial bersama minimal dua kali setahun sebagai wujud nyata menjaga kerukunan.
Bagi IAKN Kupang:
  1. Integrasikan mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Kewirausahaan Sosial ke dalam kurikulum semua program studi sebagai mata kuliah wajib (minimal 3 SKS).
  2. Selenggarakan hibah penelitian internal bagi dosen dan mahasiswa yang mengangkat tema "Pembangunan Jemaat dan Pengentasan Kemiskinan di NTT" dengan output berupa model pendampingan yang teruji.
  3. Tetapkan minimal tiga desa binaan di kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi (Sumba Tengah, Sabu Raijua, Sumba Barat) sebagai laboratorium lapangan pengabdian masyarakat jangka panjang.
  4. Dirikan "Pusat Studi Pancasila dan Pembangunan Jemaat" yang bertugas mempublikasikan minimal empat artikel ilmiah per tahun tentang aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks keagamaan di NTT.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait:
  1. Berikan penghargaan (award) dan insentif fiskal bagi gereja yang memiliki program pemberdayaan ekonomi atau sosial yang terbukti berdampak pada penurunan angka kemiskinan di wilayahnya.
  2. Libatkan sinode gereja sebagai mitra resmi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendampingan keluarga berisiko stunting (Bangga Kencana), dan program ketahanan pangan daerah.
  3. Buka akses data mikro kemiskinan dan kesehatan bagi lembaga keagamaan yang memiliki kapasitas pendampingan, dengan tetap menjaga kerahasiaan data.
Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas solidaritas sosial warganya. Dalam konteks itu, pembangunan jemaat bukan sekadar agenda gerejawi, melainkan bagian dari ikhtiar kebangsaan. Ketika gereja berhasil membangun komunitas yang peduli, inklusif, dan transformatif, sesungguhnya gereja sedang ikut merawat Indonesia. Dari Nusa Tenggara Timur, semangat tersebut dapat menjadi kontribusi nyata untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dari tingkat akar rumput, sehingga cita-cita tentang Indonesia yang bersatu, adil, dan bermartabat terus terjaga lintas generasi.
Selamat merayakan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

0 Comments

    Almi D.Harmony

    Kontributor Penerbit Alrelancegis

    Archivess

    July 2026
    June 2026
    May 2026

    Categories

    All
    Akademis
    Usaha

    RSS Feed