PENERBIT ALRELANCEGIS
  • Home
  • PROFIL
  • KATALOG
  • BERITA & OPINI
  • Contact
  • Home
  • PROFIL
  • KATALOG
  • BERITA & OPINI
  • Contact
BERITA & OPINI

MEMBANGUN JEMAAT, MERAWAT INDONESIA: MENGHIDUPI NILAI-NILAI PANCASILA DARI NTT

6/1/2026

0 Comments

 
Picture

 Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K (Dosen Pascasarjana IAKN Kupang)

​Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk mengenang dasar negara yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Namun, di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Pancasila masih diakui sebagai dasar negara, melainkan apakah nilai-nilainya masih sungguh-sungguh hidup dalam kehidupan masyarakat. Persoalan terbesar Indonesia dewasa ini tampaknya bukan krisis ideologi, melainkan krisis solidaritas sosial.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, masyarakat justru menghadapi gejala menguatnya individualisme, polarisasi sosial, menurunnya kepercayaan antarkelompok, serta melemahnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Data empiris menunjukkan kondisi ini bukan sekadar kekhawatiran normatif. Sebuah studi pada 2025 mengungkap bahwa hanya 39,1 persen anak muda Indonesia yang masih aktif mempraktikkan gotong royong dalam keseharian mereka. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, partisipasi masyarakat dalam kerja bakti di desa turun drastis dari 45 persen (2018) menjadi hanya 30 persen. Bahkan, sebanyak 47,8 persen generasi muda mengalami krisis identitas akibat perubahan kebiasaan sosial, dan 68 persen memahami toleransi hanya secara teoretis tanpa implementasi substantif. Indeks kedermawanan juga menunjukkan penurunan: rata-rata donasi masyarakat Indonesia hanya 1,55 persen dari pendapatan per tahun, meskipun angka ini masih di atas rata-rata global 1,04 persen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama Pancasila pada abad ke-21 bukan lagi mempertahankan keberadaannya sebagai dasar negara, melainkan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak akan kehilangan relevansinya karena adanya ideologi lain, tetapi dapat kehilangan daya hidupnya ketika masyarakat gagal menerjemahkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam tindakan nyata. Karena itu, Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi untuk mencari cara-cara konkret menghidupkan kembali solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam konteks tersebut, pembangunan jemaat memiliki relevansi yang sangat penting. Selama ini pembangunan jemaat sering dipahami secara sempit sebagai pertumbuhan jumlah anggota gereja, peningkatan aktivitas pelayanan, atau pembangunan sarana fisik gereja. Padahal, hakikat pembangunan jemaat jauh lebih mendalam daripada sekadar pertumbuhan institusional. Pembangunan jemaat adalah proses membentuk komunitas yang bertumbuh dalam iman sekaligus menghadirkan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Jemaat yang dibangun dengan baik tidak hanya menghasilkan orang-orang yang aktif beribadah, tetapi juga melahirkan warga masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, menghargai keberagaman, mampu membangun dialog, dan terlibat dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan bersama.
Di sinilah pembangunan jemaat bertemu dengan nilai-nilai Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong gereja untuk memperjuangkan martabat manusia tanpa membedakan latar belakang sosial, budaya, maupun agama. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan pentingnya membangun relasi yang melampaui batas-batas identitas kelompok. Sila Kerakyatan mengajarkan budaya dialog, musyawarah, dan partisipasi. Sementara sila Keadilan Sosial mendorong keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin, dan termarginalkan. Dengan demikian, pembangunan jemaat pada dasarnya merupakan proses pembentukan warga negara yang mampu menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran ini menjadi semakin penting ketika berbagai persoalan sosial menunjukkan adanya gejala melemahnya solidaritas dalam masyarakat. Tidak sedikit konflik sosial berawal dari ketidakmampuan menerima perbedaan. Tidak sedikit pula persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kerentanan sosial yang berlangsung karena rendahnya kepedulian terhadap sesama. Dalam situasi seperti ini, gereja tidak cukup hanya menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Gereja perlu menjadi ruang pembelajaran sosial yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Ketika jemaat dibentuk untuk peduli terhadap persoalan masyarakat, membantu kelompok rentan, serta membangun relasi yang harmonis dengan berbagai kelompok sosial, sesungguhnya gereja sedang berkontribusi memperkuat fondasi kehidupan kebangsaan.
Perspektif tersebut sangat relevan dalam konteks Nusa Tenggara Timur. NTT dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi komunal yang kuat. Berbagai komunitas di daerah ini masih memelihara nilai kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan masyarakat sekaligus mencerminkan semangat Pancasila yang hidup dalam budaya lokal.
Namun, NTT juga menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan laporan BPS Maret 2025, persentase penduduk miskin di NTT mencapai 18,60 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 8,47 persen. Bahkan, Kabupaten Sumba Tengah mencatat angka tertinggi hingga 29,23 persen. Garis kemiskinan di NTT juga terus meningkat, dari Rp549.607 (Maret 2025) menjadi Rp563.052 per kapita per bulan (September 2025). Selain itu, prevalensi stunting di provinsi ini masih memprihatinkan, berkisar pada angka 37 persen. Di beberapa daerah seperti Manggarai, angkanya sempat melonjak dari 9 persen menjadi 13 persen hanya dalam periode enam bulan di tahun 2025. Di Kota Kupang sendiri, kasus stunting hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 29 persen. Meskipun BKKBN NTT berhasil melampaui target pendampingan keluarga berisiko stunting (mendampingi 41.941 keluarga dari target 28.615), laporan menyebutkan bahwa penggelontoran dana ratusan miliar rupiah belum banyak membuahkan hasil yang signifikan. Persoalan kemiskinan, kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, stunting, migrasi tenaga kerja, dan berbagai bentuk ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Tantangan tersebut tidak mungkin ditangani hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan dan institusi pendidikan tinggi. Dalam konteks inilah pembangunan jemaat menjadi penting sebagai strategi sosial yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan bersama. Jemaat yang bertumbuh dalam semangat pelayanan dan solidaritas dapat menjadi kekuatan sosial yang signifikan. Mereka dapat terlibat dalam pendidikan masyarakat, pendampingan keluarga, pemberdayaan ekonomi, penguatan karakter generasi muda, hingga pengembangan berbagai program sosial yang menjawab kebutuhan lokal. Ketika gereja mengambil peran tersebut, pembangunan jemaat tidak lagi menjadi agenda internal gereja, melainkan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan bangsa.
Model Nyata: Ketika Gereja Menjadi Agen Perubahan di NTT
Di tengah tantangan yang demikian besar, telah hadir sejumlah praktik baik yang menunjukkan bahwa pembangunan jemaat yang transformatif bukan sekadar wacana. Beberapa contoh konkret di NTT dapat menjadi teladan:
Pertama, GG Mart. Bank Indonesia bersama Sinode GMIT meluncurkan toko yang memasarkan produk pangan lokal karya jemaat di seluruh NTT. Program ini tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, tetapi juga representasi nyata pemberdayaan jemaat yang berdaya saing. GG Mart melibatkan tiga bentuk kerja sama: peningkatan kompetensi pendeta dan jemaat, implementasi di sektor pertanian di Rote Ndao dan Kupang, serta peningkatan nilai tambah produk pangan lokal.
Kedua, Kebun Jemaat Haumeni Nisum di Kabupaten Kupang. Melalui kerja sama antara Pemkab Kupang dan Polda NTT, lahan gereja dimanfaatkan menjadi kebun produktif yang dikelola secara kolektif oleh 76 kepala keluarga dengan sistem gotong royong. Hasilnya, kebun ini menghasilkan pendapatan sebesar Rp3.500.000 yang digunakan untuk pembangunan menara dan ruang konsistori gereja. Gubernur Melki Laka Lena bahkan mendorong produk komunitas gereja untuk masuk ke pasar yang lebih luas melalui NTT Mart.
Ketiga, Seminar Social Churchpreneurship yang diselenggarakan bagi jemaat GMIT Nekaf Mese Naioni. Kegiatan ini bertujuan mengatasi permasalahan sosial-ekonomi jemaat melalui pendekatan churchpreneurship atau kewirausahaan gerejawi, yang menggabungkan semangat pelayanan dengan keterampilan usaha produktif.
Ketiga contoh di atas membuktikan bahwa pembangunan jemaat dapat menjadi kekuatan sosial yang nyata. Gereja tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga dalam pasar, kebun, dan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat.
Peran strategis tersebut juga berkaitan erat dengan keberadaan Institut Agama Kristen Negeri Kupang sebagai perguruan tinggi keagamaan negeri di kawasan Indonesia Timur. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, IAKN Kupang tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan spiritual, tetapi juga membentuk pemimpin yang memiliki kesadaran sosial dan komitmen kebangsaan yang kuat. Kampus memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran konstruktif mengenai hubungan antara iman, masyarakat, budaya, dan pembangunan nasional.
Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, IAKN Kupang dapat menjadi pusat pengembangan gagasan pembangunan jemaat yang kontekstual dan transformatif. Pendekatan tersebut penting agar gereja tidak terjebak pada orientasi internal semata, tetapi mampu hadir sebagai agen perubahan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak hanya berkontribusi bagi pengembangan gereja, tetapi juga bagi penguatan kehidupan kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Pada akhirnya, kekuatan Pancasila tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai dasar negara, melainkan pada kemampuannya menginspirasi kehidupan masyarakat. Pancasila akan tetap hidup apabila nilai-nilainya diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperkuat persaudaraan, membangun kepercayaan sosial, menghargai martabat manusia, dan memperjuangkan keadilan bagi semua. Sebaliknya, Pancasila akan kehilangan daya transformasinya apabila hanya menjadi slogan yang diperingati setiap tahun tanpa penghayatan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, sebagai ikhtiar bersama, berikut beberapa rekomendasi terukur yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak:
Bagi gereja dan jemaat:
  1. Kembangkan koperasi jemaat sebagai lembaga ekonomi yang berbadan hukum, dengan target peningkatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan sebesar 20 persen per tahun.
  2. Selenggarakan pelatihan digitalisasi ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi seluruh pengurus jemaat dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
  3. Bentuk tim pendampingan bagi minimal 10 keluarga pra-sejahtera di sekitar gereja (tanpa membedakan latar belakang agama) untuk program pengentasan stunting dan kemiskinan.
  4. Gandeng tokoh agama lain untuk menginisiasi program bakti sosial bersama minimal dua kali setahun sebagai wujud nyata menjaga kerukunan.
Bagi IAKN Kupang:
  1. Integrasikan mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Kewirausahaan Sosial ke dalam kurikulum semua program studi sebagai mata kuliah wajib (minimal 3 SKS).
  2. Selenggarakan hibah penelitian internal bagi dosen dan mahasiswa yang mengangkat tema "Pembangunan Jemaat dan Pengentasan Kemiskinan di NTT" dengan output berupa model pendampingan yang teruji.
  3. Tetapkan minimal tiga desa binaan di kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi (Sumba Tengah, Sabu Raijua, Sumba Barat) sebagai laboratorium lapangan pengabdian masyarakat jangka panjang.
  4. Dirikan "Pusat Studi Pancasila dan Pembangunan Jemaat" yang bertugas mempublikasikan minimal empat artikel ilmiah per tahun tentang aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks keagamaan di NTT.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait:
  1. Berikan penghargaan (award) dan insentif fiskal bagi gereja yang memiliki program pemberdayaan ekonomi atau sosial yang terbukti berdampak pada penurunan angka kemiskinan di wilayahnya.
  2. Libatkan sinode gereja sebagai mitra resmi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendampingan keluarga berisiko stunting (Bangga Kencana), dan program ketahanan pangan daerah.
  3. Buka akses data mikro kemiskinan dan kesehatan bagi lembaga keagamaan yang memiliki kapasitas pendampingan, dengan tetap menjaga kerahasiaan data.
Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas solidaritas sosial warganya. Dalam konteks itu, pembangunan jemaat bukan sekadar agenda gerejawi, melainkan bagian dari ikhtiar kebangsaan. Ketika gereja berhasil membangun komunitas yang peduli, inklusif, dan transformatif, sesungguhnya gereja sedang ikut merawat Indonesia. Dari Nusa Tenggara Timur, semangat tersebut dapat menjadi kontribusi nyata untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dari tingkat akar rumput, sehingga cita-cita tentang Indonesia yang bersatu, adil, dan bermartabat terus terjaga lintas generasi.
Selamat merayakan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

0 Comments

Pascasarjana IAKN Kupang Gelar Pengabdian kepada Masyarakat bagi Pengajar GMIT Klasis Belu

5/19/2026

0 Comments

 
Picture

Atambua, 6 Mei 2026
– Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di wilayah GMIT Klasis Belu pada tanggal 4–6 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Serba Guna Jemaat GMIT Polycarpus Atambua dan diikuti oleh 45 peserta yang merupakan para pengajar jemaat dari 10 jemaat di lingkungan GMIT Klasis Belu.
Kegiatan PkM ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pengajar jemaat dalam menjalankan tugas pelayanan pendidikan Kristen, khususnya dalam pengajaran kepada anak dan remaja di gereja.
​Tim PkM Pascasarjana IAKN Kupang dipimpin oleh Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th. selaku ketua tim, dengan anggota Dr. Hemi D. Bara Pa, M.P.K., Maya Djawa, Ph.D., serta Aprilianus Laiskodat, mahasiswa Program Magister.
Acara diawali dengan laporan ketua tim, dilanjutkan dengan sambutan Wakil Direktur Pascasarjana IAKN Kupang. Ketua Majelis Klasis Belu kemudian menyampaikan sambutan sekaligus secara resmi membuka kegiatan. Setelah doa pembukaan dan sesi foto bersama, para peserta mengikuti rangkaian materi yang telah disiapkan.

​Materi pertama disampaikan oleh Maya Djawa, Ph.D., M.Pd.K., dengan topik “Tugas dan Fungsi Jabatan Pengajar di GMIT”. Sesi ini dimoderatori oleh Pdt. Mery Nitbani, S.Th. Dalam pemaparannya, Maya menekankan pentingnya peran pengajar sebagai pelayan firman yang bertanggung jawab membentuk iman warga jemaat. Materi ini dilanjutkan dengan diskusi dan pendalaman sesuai dengan konteks pelayanan masing-masing peserta.
Materi kedua dibawakan oleh Dr. Hemi D. Bara Pa, M.P.K., dengan topik “Metode Mengajar bagi Anak dan Remaja”. Moderator dalam sesi ini adalah Pdt. Para Manggi Uly, S.Th., selaku Ketua Majelis Klasis Belu. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pendekatan pembelajaran berbasis afektif yang menekankan pembentukan sikap dan karakter peserta didik.
Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th., dengan topik “Teori dan Teknik Dasar Panggung Boneka untuk Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Jemaat.” Selain teori, peserta juga mengikuti pelatihan desain cerita, praktik penggunaan panggung boneka, dan simulasi kelompok untuk mengembangkan media pembelajaran kreatif bagi anak-anak Sekolah Minggu.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara Pascasarjana IAKN Kupang dan GMIT Klasis Belu. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Direktur Pascasarjana IAKN Kupang bersama Ketua Majelis Klasis Belu sebagai bentuk komitmen kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Picture
Kegiatan ditutup secara resmi oleh Ketua Majelis Jemaat GMIT Polycarpus Atambua, Pdt. Mery Nitbani, S.Th., selaku tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi Pascasarjana IAKN Kupang dalam memperlengkapi para pengajar jemaat untuk melayani secara lebih kreatif dan efektif.
Melalui kegiatan ini, Pascasarjana IAKN Kupang menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan mutu pelayanan gereja melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya para pengajar yang berperan strategis dalam pembinaan iman generasi muda gereja.
0 Comments

    Almi D.Harmony

    Kontributor Penerbit Alrelancegis

    Archivess

    June 2026
    May 2026

    Categories

    All
    Akademis

    RSS Feed